Sarasehan Menjelang HUT ke-24 Kota Batu, Simposium Perjuangan Pokja
Selasa, 14 Oktober 2025 - 10:02
Sarasehan Menjelang HUT ke-24 Kota Batu, Simposium Perjuangan Pokja
Selasa, 14 Oktober 2025 - 10:02 | 1167
Peringati HUT ke-24 Kota Batu, Pokja Kota Batu gelar sarasehan. Selasa (14/10/2025). (ADV)
Kota Batu, JN — Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Status Kota Batu menggelar sarasehan bertajuk 'Refleksi Menuju Seperempat Abad Kota Batu Sebagai Daerah Otonom'.
Agenda yang berlangsung di Graha Pancasila Balai kota Among Tani, Selasa (14/10/2025) ini menyongsong peringatan ke-24 tahun berdirinya Kota Batu.
Ketua Presidium Pokja, Andrek Prana, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada seluruh tokoh dan pemimpin Kota Batu dari masa ke masa, mulai dari Imam Kabul hingga Aries Agung Paewai.
Ia juga menyampaikan kegelisahan terhadap arah pembangunan kota yang dinilai belum memiliki konsep berkelanjutan.
“Kota Batu hari ini tidak punya konsep yang jelas, konsep yang bisa melindungi wilayah dan diikuti siapapun wali kotanya," tegas dia.

Padahal dulu, ditambahkan Andrek, Pokja membawa satu konsep sederhana tapi kuat: 'Batu Kota Bernuansa Desa'.
"Konsep itu harus dipertahankan karena menjadi ruh dari berdirinya kota ini,” imbuhnya.
Andrek juga menegaskan bahwa budaya, sejarah, dan karakter desa yang menjadi identitas Batu harus tetap dijaga, terutama oleh para kepala desa dan generasi muda.
Ia juga mengumumkan rencana reorganisasi Pokja agar lebih inklusif dengan melibatkan generasi muda.
Wali Kota Batu, Nurochman, dalam sambutannya menegaskan bahwa semangat pendirian Kota Batu harus terus dihidupkan.

Cak Nur menekankan pentingnya menjaga jati diri Kota Batu yang berpijak pada nilai-nilai 'Batu Kota Bernuansa Desa'.
“Kami berterima kasih pada para pendahulu yang telah meletakkan fondasi kokoh bagi kota ini. Momentum hari jadi ke-24 adalah saat untuk merefleksikan apakah kita sudah berjalan sesuai harapan pendirian Kota Batu,” ujar Nurochman.
Alumnus Unisma itu juga menyoroti pentingnya inovasi tanpa kehilangan akar kultural.
“Mari membangun Kota Batu dengan karakteristik kita sendiri. Jadilah orang yang mengendorse Kota Batu dengan cara apa pun, dari tutur, media sosial, hingga tindakan nyata. Kolaborasi adalah kunci,” tambahnya.
Melalui sarasehan menjelang seperempat abad berdirinya Kota Batu sebagai daerah otonom ini, serta dengan adanya dialog lintas generasi, para tokoh, akademisi, dan pemerintah, besar harapan nantinya akan didapatkan kesepakatan untuk meneguhkan kembali jati diri Kota Batu.
Jati diri sebagai 'Kota Bernuansa Desa', sebuah filosofi yang menempatkan kearifan lokal, harmoni alam, dan gotong royong sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Sarasehan ini menghadirkan Prof Dr Hariyono, Rektor Universitas Negeri Malang, Dr Slamet Hendro Kusumo, Ketua Advokasi Pokja Peningkatan Status Kota Batu, dengan moderator Dr Slamet Muchsin MSi, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang (UNISMA). (ADV)
Pewarta: Rendi Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri