Loading...

Pengunjung

Ancaman Maksiat di Bulan Ramadan, Pahala Puasa Bisa Hilang

admin

admin

Kamis, 19 Februari 2026 - 19:10

1119 | Bagikan

Ancaman Maksiat di Bulan Ramadan, Pahala Puasa Bisa Hilang

admin - Analekta Ramadan 1447 H

Kamis, 19 Februari 2026 - 19:10 | 1119

Ilustrasi perbuatan maksiat di bulan Ramadan. Jum'at (20/2/2026). (Freepik)

ANALEKTA RAMADAN, jurnalnusa.com — Bulan suci Ramadan merupakan momentum peningkatan ketakwaan dan pengendalian diri. Namun para ulama mengingatkan, melakukan maksiat saat Ramadan tetaplah haram dan termasuk perbuatan dosa besar, sebagaimana di bulan-bulan lainnya.

Bahkan, dampaknya terhadap kualitas ibadah puasa bisa jauh lebih berat.

Dalam ajaran Islam, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, hati, dan perilaku.

Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muhammad bersabda bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh pada rasa lapar dan hausnya.

Hadis ini menjadi dalil tegas bahwa maksiat seperti berbohong, menggunjing (ghibah), memfitnah, atau berkata kasar dapat merusak nilai puasa.

Secara fikih, perbuatan maksiat seperti berbohong atau menggunjing memang tidak serta-merta membatalkan puasa secara hukum lahiriah.

Artinya, puasa tetap sah dan tidak wajib diganti. Namun secara spiritual, maksiat tersebut dapat mengurangi pahala puasa, bahkan berpotensi menghilangkannya sama sekali.

Dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT secara tegas melarang ghibah dan mengibaratkannya seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.

Larangan ini berlaku setiap waktu, terlebih di bulan Ramadan yang penuh kemuliaan.

Para ulama menegaskan, dosa yang dilakukan di waktu dan tempat yang mulia memiliki konsekuensi moral yang lebih berat.

Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an, bulan ampunan, serta kesempatan pelipatgandaan pahala.

Melakukan maksiat di dalamnya berarti menyia-nyiakan peluang besar meraih rahmat dan pengampunan Allah SWT.

Puasa sejatinya menjadi sarana pendidikan akhlak. Jika seseorang hanya menahan makan dan minum, namun tetap melanggar larangan Allah, maka ia berisiko hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa pahala berarti.

Karena itu, umat Islam diimbau menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat selama Ramadan.

Mengendalikan lisan, menahan amarah, menjauhi gosip dan fitnah, serta memperbanyak istighfar menjadi kunci agar ibadah puasa tidak sia-sia.

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum pembentukan karakter. Menjaga diri dari maksiat adalah bagian utama dari kesempurnaan puasa dan jalan meraih predikat takwa yang dijanjikan Allah SWT. (**)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri