Keutamaan Puasa Hari ke-6 Ramadan 1445 H: Menelusuri Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Janji Surga
Rabu, 25 Februari 2026 - 19:37
Keutamaan Puasa Hari ke-6 Ramadan 1445 H: Menelusuri Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Janji Surga
admin - Analekta Ramadan 1447 H
Rabu, 25 Februari 2026 - 19:37 | 1184
Ilustrasi orang-orang yang beriman. (Freepik)
ANALEKTA RAMADAN, jurnalnusa.com — Ramadan 1445 Hijriah menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, khususnya puasa yang merupakan rukun Islam ketiga.
Memasuki hari ke-6, beredar riwayat yang menyebutkan keutamaan luar biasa bagi orang yang berpuasa, yakni Allah SWT akan memberikan di Surga Darus Salam seratus ribu kota, di setiap kota seratus perkampungan, di setiap perkampungan seratus ribu rumah, dan seterusnya dengan kenikmatan yang tak terhingga.
Namun, bagaimana kedudukan riwayat tersebut dalam perspektif dalil Al-Qur’an dan hadits?
Puasa dalam Al-Qur’an: Jalan Menuju Takwa dan Surga.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa inilah yang menjadi sebab utama seseorang mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, termasuk balasan surga.
Dalam ayat lain, Allah menjanjikan balasan besar bagi orang-orang yang sabar:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).
Puasa merupakan ibadah kesabaran—menahan lapar, haus, dan hawa nafsu—sehingga pahala yang dijanjikan pun tanpa batas.
Hadits tentang Keutamaan Puasa
Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).
Hadits ini menunjukkan keistimewaan puasa dibanding ibadah lainnya. Balasannya langsung dari Allah SWT, tanpa batasan yang disebutkan secara rinci.
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).
Ini menjadi dalil sahih tentang kemuliaan khusus bagi orang yang berpuasa.
Riwayat Keutamaan Hari ke-6: Perlu Kehati-hatian
Adapun riwayat yang menyebutkan secara spesifik keutamaan hari ke-6 dengan rincian seratus ribu kota, perkampungan, rumah, hingga bidadari dengan perhiasan tertentu, tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits utama seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dengan sanad yang kuat.
Sebagian ulama menilai bahwa riwayat-riwayat keutamaan harian Ramadan yang sangat rinci seperti itu banyak bersumber dari hadits dhaif (lemah), bahkan ada yang tergolong maudhu’ (palsu).
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk berhati-hati dan tidak menyandarkan secara pasti kepada Rasulullah SAW tanpa kejelasan sumber yang sahih.
Surga Darus Salam dalam Al-Qur’an
Meski demikian, konsep Darus Salam memang disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Bagi mereka (disediakan) Darus Salam di sisi Tuhannya, dan Dialah Pelindung mereka karena amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 127).
Darus Salam berarti negeri keselamatan, yakni surga yang penuh kedamaian dan kenikmatan. Gambaran tentang istana, sungai, bidadari, dan berbagai kenikmatan juga banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti dalam QS. Ar-Rahman dan QS. Al-Waqi’ah.
Fokus pada Keikhlasan dan Konsistensi
Para ulama menegaskan bahwa keutamaan puasa tidak terbatas pada hari tertentu saja, melainkan mencakup seluruh hari Ramadan bagi yang menjalankannya dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala). Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).
Dengan demikian, keutamaan hari ke-6 Ramadan hendaknya dimaknai sebagai bagian dari rangkaian ibadah penuh berkah di bulan suci.
Alih-alih terfokus pada detail angka dan gambaran fisik yang belum tentu sahih, umat Islam dianjurkan memperkuat kualitas puasa—menjaga lisan, hati, dan perbuatan.
Ramadan bukan sekadar menghitung hari dan janji kenikmatan, tetapi perjalanan spiritual menuju takwa dan ridha Allah SWT. (**)
Pewarta: Eshan Abyasa Kawindra
Editor: Doi Nuri