Loading...

Pengunjung

Kiai Said Aqil Siradj: Puasa Ramadan Bukan Sekadar Lapar, tapi Revolusi Spiritual

admin

admin

Jumat, 20 Februari 2026 - 21:08

1264 | Bagikan

Kiai Said Aqil Siradj: Puasa Ramadan Bukan Sekadar Lapar, tapi Revolusi Spiritual

admin - Analekta Ramadan 1447 H

Jumat, 20 Februari 2026 - 21:08 | 1264

KH Said Akil Shiraj menjelaskan esensi puasa Ramadhan dalam kaca mata tasawuf. Sabtu (21/2/2026). (Freepik)

ANALEKTA RAMADAN, jurnalnusa.com — Puasa di bulan suci Ramadan tidak boleh dipahami hanya sebagai kewajiban menahan lapar dan dahaga. Said Aqil Siradj menegaskan, dalam perspektif tasawuf, puasa adalah proses riyadhah (latihan spiritual) untuk menyucikan hati dan mengendalikan hawa nafsu.

Menurut Kiai Said, Al-Qur’an telah menegaskan tujuan utama puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat tersebut, kata Kiai Said, menunjukkan bahwa orientasi puasa bukan semata ritual fisik, melainkan pencapaian derajat takwa.

Takwa lahir dari kemampuan mengendalikan diri, bukan sekadar menahan makan dan minum.

Dari Shiyam ke Shaum

Dalam berbagai kajiannya, Kiai Said membedakan antara shiyam (puasa secara syariat) dan shaum (puasa secara hakikat).

Shiyam adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Sementara shaum adalah menahan hawa nafsu, amarah, keserakahan, dan sifat-sifat tercela.

Pandangan ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut, menurut Kiai Said, menjadi dalil bahwa esensi puasa adalah transformasi akhlak. Jika lisan masih gemar ghibah dan hati dipenuhi iri serta dengki, maka puasa belum menyentuh dimensi tasawuf.

Penyucian Hati dan Pengendalian Indra

Puasa Ramadan juga menjadi momentum takhalli, yakni membersihkan hati dari penyakit batin seperti sombong, hasud, dan riya. Dalam Surah Asy-Syams ayat 9-10, Allah SWT berfirman:

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Ayat ini, menurut Kiai Said, menjadi landasan spiritual bahwa keberuntungan sejati terletak pada keberhasilan menyucikan jiwa.

Ramadan adalah madrasah untuk proses penyucian tersebut.

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengingatkan:
“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai yang dimaksud bukan hanya dari lapar dan haus, tetapi juga dari dorongan hawa nafsu yang menjerumuskan manusia pada dosa.

Muhasabah dan Transformasi Sosial

Kiai Said menegaskan, Allah SWT tidak membutuhkan lapar manusia. Dalam hadis qudsi disebutkan:

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan ini menunjukkan kemuliaan puasa, sekaligus mengingatkan bahwa manfaatnya kembali kepada manusia itu sendiri.

Ramadan harus menjadi ruang muhasabah atau evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama.

Puasa, lanjut Kiai Said, juga membentuk karakter sabar, disiplin, dan empati sosial. Dengan merasakan lapar, seseorang belajar memahami penderitaan kaum dhuafa dan terdorong untuk lebih peduli.

“Puasa tasawuf adalah puasa yang mengubah manusia dari egois menjadi saleh, dari hanya ritual menjadi spiritual dan sosial,” tegasnya dalam berbagai kesempatan.

Dengan demikian, Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum revolusi batin. Puasa yang berhasil adalah puasa yang menghadirkan perubahan nyata dalam akhlak, menjadikan manusia lebih bertakwa sebagaimana tujuan utama yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. (**)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri