Megengan, Perpaduan Budaya Jawa dan Islam Sebagai Piranti Syiar Wali Songo
Kamis, 27 Februari 2025 - 19:09
Megengan, Perpaduan Budaya Jawa dan Islam Sebagai Piranti Syiar Wali Songo
admin - Analekta Ramadan 1447 H
Kamis, 27 Februari 2025 - 19:09 | 2287
Ilustrasi tradisi Megengan yang lazim di Indonesia, menjelang bulan Ramadan. Jum'at (28/2/2025). (Freepik)
Ramadan, JN – Menjelang bulan Ramadan, masyarakat di Indonesia pasti tidak asing dengan istilah Megengan. Sebuah tradisi syukuran untuk menyambut bulan suci umat islam.
Megengan, adalah tradisi masyarakat Jawa untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi ini dilakukan pada pekan terakhir bulan Syakban.
Mengutip dari Artificial intelligence (AI), tradisi Megengan berasal dari masa Kerajaan Demak sekira tahun 1500 M.
Tradisi ini merupakan perpaduan budaya Jawa dan Islam yang dilakukan oleh Wali Songo dalam misinya menyebar luaskan ajaran agama Islam.
Asal-usul kata Megengan, berasal dari bahasa Jawa yang berarti 'menahan' atau 'mengendalikan'. Sebab Megengan merupakan peringatan bahwa bulan Ramadan akan segera tiba.
Megengan juga merupakan sarana introspeksi diri untuk bersiap secara spiritual dan mental dalam menjalankan ibadah puasa.
Tujuan Megengan, adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang diberikan selama satu tahun.
Sebagai pertanda bahwa sebentar lagi akan kedatangan tamu istimewa, yakni bulan Ramadan. Tradisi ini mengaplikasikan semangat mempererat silaturahmi serta berbagi berkah kepada sesama.
Karenanya, Megengan digelar dengan berkumpul di masjid untuk tahlil dan istigasah, selanjutnya makan nasi berkatan dan kue apem bersama-sama.
Sementara,sebelum acara bersama di masjid, masyarakat saling membagikan makanan kepada tetangga sekitar.
Kue apem identik dengan tradisi megengan karena melambangkan permohonan ampunan dan saling memaafkan. Tradisi megengan sendiri merupakan tradisi Jawa menjelang Ramadan.
Kata apem berasal dari bahasa Arab, yakni afwan yang berarti maaf atau ampunan.
Orang Jawa mungkin kesulitan mengucapkan afwan, sehingga kata apem digunakan sebagai penggantinya.
Apem dihidangkan saat megengan sebagai simbol permintaan maaf kepada sesama dan permohonan ampun kepada Allah SWT.
Tradisi megengan mencerminkan ajaran Islam tentang pentingnya taubat dan introspeksi diri.
Apem juga melambangkan permohonan maaf kepada tetangga.
Apem yang disajikan sebagai hantaran tidak hanya menggugah selera, tetapi juga hati-hati yang terbuka untuk merangkul perdamaian dan kesatuan di tengah perbedaan.
Megengan bukan sekadar perayaan menjelang Ramadan, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan dan budaya Jawa. (**)
Pewarta: Zara Putri Islamia Aiska
Editor: Doi Nuri