Loading...

Pengunjung

Pesan Toleransi Ramadan ala KH Mustofa Bisri: Militan dalam Iman, Santun dalam Perbedaan

admin

admin

Senin, 02 Maret 2026 - 05:16

1181 | Bagikan

Pesan Toleransi Ramadan ala KH Mustofa Bisri: Militan dalam Iman, Santun dalam Perbedaan

admin - Analekta Ramadan 1447 H

Senin, 02 Maret 2026 - 05:16 | 1181

Gus Mustofa Bisri dikenal dengan ceramah agama yang menyejukkan. (Freepik)

ANALEKTA RAMADAN, jurnalnusa.com — Bulan suci Ramadan kembali menjadi momentum refleksi bagi umat Islam. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, menegaskan bahwa Ramadan bukan ajang pamer kesalehan, melainkan waktu untuk membersihkan hati dan merawat toleransi.

Menurut Gus Mus, puasa sejatinya adalah latihan menahan hawa nafsu, bukan menahan atau bahkan menghakimi orang lain. Ia kerap mengingatkan melalui puisi “Nasihat Ramadhan” agar umat Islam lebih sibuk memuasakan diri dari sifat iri, dengki, riya, dan takabur daripada sibuk menilai ibadah orang lain.

Puasa Menahan Hawa Nafsu, Bukan Orang Lain

Dalam berbagai kesempatan, Gus Mus menekankan bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri.

Jika seseorang masih mudah marah, gemar mencela, atau merasa paling benar, maka nilai puasanya patut dipertanyakan. Ramadan, katanya, adalah sarana membersihkan hati agar lahir kesalehan sosial, bukan sekadar kesalehan ritual.

“Yang harus ditahan itu hawa nafsu, bukan orang lain,” menjadi pesan yang berulang kali ia gaungkan, terutama saat muncul gejala saling menyalahkan di tengah masyarakat.

Perbedaan Adalah Fitrah

Gus Mus juga menegaskan bahwa perbedaan merupakan fitrah yang dikehendaki Allah. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan beragama, perbedaan suku, agama, maupun pandangan politik adalah keniscayaan yang harus dirawat, bukan dipertentangkan.

Menurutnya, toleransi tertinggi adalah kemampuan menghormati perbedaan tanpa kehilangan keyakinan.

Ramadan seharusnya memperhalus akhlak dalam menyikapi keberagaman, bukan malah memperuncing perbedaan.

Militan tapi Tetap Toleran

Gus Mus menjelaskan, umat Islam boleh memiliki ghirah atau semangat tinggi dalam menjalankan ajaran agama. Namun militansi dalam keyakinan tidak berarti mengusik atau merendahkan penganut agama lain.

Kunci dari sikap tersebut adalah pemahaman agama yang benar melalui proses belajar atau mengaji.

Dengan pemahaman yang utuh, seseorang akan semakin kokoh dalam iman sekaligus semakin lembut dalam bersikap.

Ramadan sebagai Waktu Muhasabah

Ramadan, menurut Gus Mus, adalah waktu satu bulan untuk merenung setelah sebelas bulan disibukkan urusan duniawi.

Momentum ini menjadi ruang muhasabah atau introspeksi diri: sudahkah ibadah berdampak pada akhlak? Sudahkah puasa membuat seseorang lebih sabar, jujur, dan peduli sesama?

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadan tidak diukur dari seberapa sering seseorang memamerkan ibadahnya, melainkan dari perubahan sikap setelahnya.

Menegur dengan Cara Baik

Dalam menyikapi perbedaan atau melihat kesalahan, Gus Mus menekankan pentingnya menegur dengan cara yang baik. Kekerasan, caci maki, atau kesombongan justru bertentangan dengan spirit Ramadan.

Baginya, dakwah yang efektif adalah yang menghadirkan keteladanan dan kelembutan. Sikap keras dan merasa paling benar hanya akan melahirkan jarak sosial serta memperlebar konflik.

Ramadan untuk Keharmonisan Sosial

Secara keseluruhan, pesan Gus Mus jelas: jadikan Ramadan sebagai bulan perbaikan akhlak pribadi yang berdampak pada keharmonisan sosial. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membersihkan hati dari kedengkian, riya, dan takabur.

Dengan demikian, Ramadan diharapkan menjadi energi spiritual yang memperkuat persaudaraan, memperhalus sikap, dan menumbuhkan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk. (**)

Pewarta: Salaka Nahwal Irfan
Editor: Doi Nuri