Safari Ramadan UMM: Ilmu Harus Memuliakan Manusia, Bukan Sekadar Melahirkan Kemajuan Teknologi
Rabu, 11 Maret 2026 - 23:10
Safari Ramadan UMM: Ilmu Harus Memuliakan Manusia, Bukan Sekadar Melahirkan Kemajuan Teknologi
admin - Analekta Ramadan 1447 H
Rabu, 11 Maret 2026 - 23:10 | 1057
Kegiatan Safari Ramadan yang digelar di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (10/3/2026). (Humas UMM for JN)
ANALEKTA RAMADAN, jurnalnusa.com — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan refleksi penting mengenai makna kemajuan dalam Islam dalam kegiatan Safari Ramadan yang digelar di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (10/3/2026).
Dalam kegiatan tersebut, civitas akademika diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan seharusnya tidak hanya mendorong perkembangan teknologi, tetapi juga memuliakan dan memanusiakan manusia.
Safari Ramadan kali ini menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, sebagai pembicara utama.
Saad menegaskan, bahwa konsep Islam berkemajuan tidak boleh dipersempit hanya pada pencapaian teknologi dan sains semata.
Menurutnya, dunia modern saat ini menunjukkan paradoks yang cukup nyata. Banyak negara yang berkembang pesat secara teknologi, namun tidak selalu diikuti dengan kemajuan dalam nilai kemanusiaan.
“Banyak negara maju secara teknologi, tetapi tidak selalu maju secara kemanusiaan. Karena itu Islam menekankan bahwa kemajuan harus berjalan bersama nilai spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial. Tanpa keseimbangan itu, kemajuan justru bisa melahirkan masalah baru bagi kehidupan manusia,” ujarnya.
Saad menjelaskan bahwa sejak awal Islam telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia.
Wahyu pertama dalam Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk membaca menjadi fondasi bagi umat Islam untuk membangun tradisi literasi, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun, menurutnya, literasi dalam perspektif Islam tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan semata. Ilmu juga harus membentuk kesadaran moral dalam penggunaannya.
Ia menilai bahwa tantangan umat Islam saat ini bukan sekadar mengejar ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan, tetapi memastikan ilmu tersebut digunakan untuk kemaslahatan manusia.
Sementara di era digital, kemajuan teknologi kerap menghadirkan berbagai persoalan sosial, mulai dari meningkatnya individualisme, penyebaran informasi yang tidak sehat, hingga melemahnya empati sosial di tengah masyarakat.
“Ilmu yang tidak dibimbing oleh nilai hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tetapi tidak bijaksana. Inilah yang harus dihindari oleh dunia pendidikan. Kampus harus menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab moral,” tegasnya.
Karena itu, Saad menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan intelektual dan pembentukan karakter.
Kampus tidak hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan nilai agar ilmu digunakan untuk kepentingan kemanusiaan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung makna spiritual Ramadan. Menurutnya, puasa bukan hanya ibadah ritual, tetapi latihan spiritual yang menumbuhkan empati sosial terhadap masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.
“Puasa itu bukan sekadar ibadah ritual, tetapi latihan spiritual yang membentuk empati terhadap kondisi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Dari empati itulah lahir kepedulian sosial yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan dalam Islam,” terangnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa Safari Ramadan menjadi bagian dari upaya kampus untuk memperkuat nilai spiritualitas di tengah dinamika aktivitas akademik.
Ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter serta kepedulian sosial.
“UMM berkomitmen menjadikan nilai spiritualitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial sebagai fondasi dalam pengembangan pendidikan di kampus ini,” pungkasnya. (**)
Pewarta: Eshan Abyasa Kawindra
Editor: Doi Nuri