Mahasiswa UMM Pimpin Perusahaan Kakao Global, Produk Cokelat Premium Tembus Pasar Internasional
Selasa, 16 Juni 2026 - 10:55
Mahasiswa UMM Pimpin Perusahaan Kakao Global, Produk Cokelat Premium Tembus Pasar Internasional
Selasa, 16 Juni 2026 - 10:55 | 1069
Mahasiswa Prodi Manajemen UMM, Paul Teller, akademisi sekaligus CEO PT Aagney Cocoa Persada yang bergerak di bidang pengolahan kakao premium. Sabtu (13/6/2026). (Humas UMM for JN)
KOTA MALANG, jurnalnusa.com — Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Paul Teller, membuktikan bahwa usia muda bukan menjadi penghalang untuk memimpin perusahaan berskala global.
Mahasiswa angkatan 2023 itu sukses menjalankan peran ganda sebagai akademisi sekaligus Chief Executive Officer (CEO) PT Aagney Cocoa Persada yang bergerak di bidang pengolahan kakao premium.
Melalui pabrik pengolahan kakao yang berlokasi di Tabanan, Bali, Paul berhasil mengembangkan produk cokelat premium dengan konsep bean to bar dan menembus pasar internasional.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa produk berbasis komoditas lokal Indonesia mampu bersaing di tengah ketatnya industri global.
Perjalanan bisnis Paul dimulai sejak usia 17 tahun.
Ketertarikannya pada industri kakao muncul setelah mengetahui bahwa sejumlah produk cokelat ternama di Eropa menggunakan biji kakao asal Indonesia sebagai bahan baku utama.
Kondisi itu mendorongnya untuk mengolah kakao lokal secara mandiri dan meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
"Kita punya sumber daya alam melimpah. Kalau negara lain bisa mengembangkan bisnis menggunakan biji kakao dari Indonesia, kenapa kita di negeri sendiri tidak bisa memanfaatkannya," ujar Paul.
Pada tahap awal, Paul mengaku menghadapi tantangan dalam mengedukasi masyarakat mengenai karakteristik cokelat asli yang cenderung memiliki cita rasa pahit.
Namun, melalui inovasi racikan biji kakao fermentasi dan gula aren alami, produknya berhasil diterima pasar hingga masuk ke berbagai supermarket premium dan bandara internasional.
Kesuksesan tersebut, menurut Paul, tidak lepas dari dukungan lingkungan akademik UMM yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi kewirausahaan.
Ia menilai berbagai materi perkuliahan dapat langsung diterapkan dalam pengembangan bisnis yang dijalankannya.
Salah satu ilmu yang paling dirasakan manfaatnya adalah mata kuliah Perilaku Konsumen. Pengetahuan tersebut digunakan untuk menyusun strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Di sisi lain, Paul juga menerapkan manajemen waktu yang ketat agar dapat menyeimbangkan aktivitas kuliah, mengelola pabrik, serta menjalankan tugas sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi UMM.
"Dosen muda di UMM sangat suportif dan membuka pola pikir mahasiswa. Ilmu tentang sasaran perilaku konsumen yang saya dapatkan di kelas sangat membantu eksekusi strategi bisnis secara langsung," ungkapnya.
Konsistensi dan inovasi yang dilakukan Paul mengantarkannya meraih berbagai penghargaan bergengsi.
Di antaranya Juara 2 Paritrana Award Provinsi Bali, partisipasi dalam pameran internasional Bali Interfood Expo 2025, hingga mendapatkan apresiasi dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.
Tak hanya berfokus pada pengembangan bisnis, Paul juga aktif menjalankan misi sosial dengan menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan kewirausahaan bagi generasi muda.
Ia mendorong para calon pengusaha untuk membangun relasi yang kuat dan bergabung dalam lingkungan yang positif sejak awal merintis usaha.
"Jika ingin merintis karier sebagai pengusaha, langkah awalnya adalah memilih lingkungan yang positif dan suportif. Komunitas yang tepat akan membuat kita tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan," pesannya.
Kisah Paul Teller menjadi gambaran nyata bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan pendidikan tinggi sebagai sarana untuk mengembangkan bisnis sekaligus membangun kapasitas kepemimpinan.
Keberhasilannya juga mempertegas peran UMM dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berinovasi, mandiri, dan berdaya saing di tingkat global. (**)
Pewarta: Rendika Rakita
Editor: Doi Nuri