Operasi Keselamatan Semeru 2026 Digelar, Tekan Angka Kecelakaan dan Pelanggaran Lalu Lintas
Senin, 02 Februari 2026 - 04:38
Operasi Keselamatan Semeru 2026 Digelar, Tekan Angka Kecelakaan dan Pelanggaran Lalu Lintas
Senin, 02 Februari 2026 - 04:38 | 1226
Apel Gelar Pasukan Ops Semeru 2026 di halaman Polres Batu. Senin (2/2/2026). (Humas Polres Batu for JN)
KOTA BATU, jurnalnusa.com — Polres Batu menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Kewilayahan Keselamatan Semeru 2026 sebagai langkah strategis menekan angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas yang masih tergolong tinggi, Senin (2/2/2026).
Apel yang dipimpin Wakapolres Batu, Kompol Anton Widodo SH MH di Lapangan Apel Polres Batu, Jalan AP III Katjoeng Permadi, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, diikuti personel Polres Batu serta unsur instansi terkait.
Operasi Keselamatan Semeru 2026 mengusung tema “Terwujudnya Kamseltibcarlantas yang Aman, Nyaman, dan Selamat Menjelang Pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026” dan menjadi upaya serius Polri dalam menciptakan kondisi lalu lintas yang lebih tertib dan berkeselamatan.
Dalam amanat Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Drs Nanang Avianto MSi. yang dibacakan Wakapolres Batu, disampaikan bahwa apel gelar pasukan merupakan momentum penting untuk memastikan kesiapan personel, sarana prasarana, serta sinergi lintas sektoral dalam menekan potensi kecelakaan sejak dini.
Berdasarkan data analisa dan evaluasi Operasi Keselamatan Semeru 2025, tercatat sebanyak 531 kasus kecelakaan lalu lintas dengan korban 10 orang meninggal dunia, 51 luka berat, dan 803 luka ringan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa keselamatan berlalu lintas masih menjadi tantangan serius yang memerlukan penanganan terpadu dan berkelanjutan.
Kapolda Jatim menegaskan bahwa tingginya angka kecelakaan berkorelasi erat dengan meningkatnya pelanggaran lalu lintas serta rendahnya disiplin dan kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan berlalu lintas.
“Perilaku tidak tertib di jalan raya berpotensi besar menimbulkan kecelakaan fatal dan merugikan banyak pihak,” demikian disampaikan dalam amanat tersebut.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Polda Jawa Timur dan jajaran menggelar Operasi Keselamatan Semeru 2026 selama 14 hari, terhitung mulai 2 hingga 15 Februari 2026, sebagai bagian dari cipta kondisi menjelang Operasi Ketupat Semeru Idul Fitri 1447 H.
Operasi ini melibatkan 5.020 personel, terdiri dari 395 personel Satgas Polda dan 4.625 personel Satwil jajaran, dengan pendekatan preemtif, preventif, dan represif yang dilaksanakan secara humanis namun tegas.
Pada aspek preemtif, Polri memaksimalkan edukasi dan sosialisasi keselamatan berlalu lintas kepada masyarakat, termasuk pembinaan kepada pengusaha otobus terkait penerapan sistem manajemen keselamatan, serta kampanye tertib berlalu lintas melalui media cetak, elektronik, dan media sosial.
Sementara itu, upaya preventif dilakukan melalui ramp check terpadu bersama Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan, meliputi pemeriksaan kelayakan kendaraan dan kesehatan pengemudi, termasuk tes urine di terminal dan pool bus.
Kendaraan yang dinyatakan laik jalan akan diberi stiker sebagai jaminan keselamatan bagi penumpang. Patroli juga ditingkatkan di titik rawan kecelakaan (blackspot) dan rawan kemacetan (troublespot).
Adapun langkah represif difokuskan pada penindakan pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal, seperti over dimension over loading (ODOL), melawan arus, tidak menggunakan helm SNI, serta penggunaan knalpot tidak sesuai spesifikasi teknis.
Penegakan hukum didukung teknologi ETLE guna memastikan proses yang transparan dan akuntabel.
Usai apel, Kompol Anton Widodo menegaskan bahwa Operasi Keselamatan Semeru 2026 menjadi langkah awal penting dalam menurunkan angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas.
“Operasi ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat sekaligus menekan potensi kecelakaan di jalan raya. Kami mengajak seluruh personel untuk bertindak profesional, humanis, dan mengutamakan keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor serta kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi gangguan, termasuk faktor cuaca.
“Keselamatan berlalu lintas adalah tanggung jawab bersama. Dengan kerja kolektif dan disiplin, kami optimistis angka kecelakaan dapat ditekan,” pungkasnya. (**)
Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri