Komunitas Seduluran Saklawase Continue Bagikan Iftar Hingga Hari ke 24 Ramadan
Kamis, 04 April 2024 - 14:59
Rutin membagikan iftar kepada pengguna jalan setiap menjelang buka puasa, Komunitas Seduluran Saklawase continue hingga hari ke 24 Ramadan 1445 Hijriyah. Kamis (4/4/2024). (Doi Nuri/JN)
Kota Batu, JN – Iftar adalah menu ringan berbuka, bisa hanya sekadar pembuka ketika berbuka puasa atau menu dengan makanan besar.
Meski demikian, iftar sering disebut dengan takjil yang berarti menyegerakan berbuka puasa.
Hingga hari ke 24 Ramadan 1445 Hijriyah, Komunitas Seduluran Saklawase yang merupakan kumpulan karyawan dari Cafe Ngajak Kopi, GS Art Biliar, dan Omah Cobek masih konsisten membagikan iftar.

Setiap aksi bagi iftar yang mereka helat, sebanyak 600 takjil untuk berbuka puasa disalurkan kepada pengguna jalan yang melintas di Jalan Suropati 30, Kota Batu.
Koordinator Komunitas Seduluran Saklawase Ghaib Sampurno, menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk sedekah dari komunitas yang didukung oleh GS Art Billiard, Omah Cafe, Ngajak Ngopi.
Bukan hanya 3 tempat usaha itu saja yang memberikan dukungan, namun juga Persatuan Olahraga Billiar Seluruh Indonesia (Pobsi) Kota Batu, dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (Koni) Kota Batu untuk berbagi kebahagiaan kepada masyarakat.

Kegiatan bagi-bagi takjil gratis ini, menurut Ghaib dilakukan secara rutin setiap bulan Ramadhan di berbagai titik yang berbeda. Namun, lebih sering di depan 3 tempat usahanya, yakni Jalan Suropati nomor 30 Batu.
"Insyaallah, kami akan terus mengadakan kegiatan ini setiap tahunnya untuk berbagi kebahagiaan kepada masyarakat,” ujarnya.
Praktik memberi iftar gratis dalam komunitas saduluran sak lawase ini, dikatakan Ghaib menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan.

"Memberi iftar gratis kepada sesama di bulan Ramadan sangat dianjurkan. Sesuai dengan konsep sadaqah atau amal kebajikan yang dianjurkan Rasulullah Muhammad SAW," imbuhnya.
Nabi Muhammad, dikisahkan Ghaib telah mengajarkan pentingnya bersedekah dan berbagi rezeki kepada yang membutuhkan, dan bulan Ramadan adalah waktu yang paling tepat untuk melaksanakannya.
Ia meyakini, engan memberi iftar gratis, umat Muslim tidak hanya memenuhi tuntutan agama, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di antara sesama.

"Praktik memberi iftar gratis dalam komunitas sadukuran sak lawase mencerminkan solidaritas sosial yang kuat. Serta bagian dari warisan budaya yang kaya dalam masyarakat Muslim," ungkap Ghaib.
Ghaib menegaskan, iftat gratis dalam komunitas sadukuran sak lawase tidak hanya memiliki makna yang dalam dari perspektif agama, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai budaya yang kaya sebagai warisan budaya yang dilestarikan, dan keterlibatan komunitas yang kuat.
"Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan keberkahan rezeki kepada kami, sehingga sodaqoh tetap menjadi halnyang Istiqomah bukan hanya di bulan Ramadan, namun 11 bulan mendatang kami tetap terbiasa berbagi, apapun itu," pungkas dia. (*)
Pewarta: Maria Ulfa
Editor: Doi Nuri