Primordialisme Budaya Desa Songgokerto Sarat Mutu Religiusitas
Jumat, 19 Juli 2024 - 08:17
Mulih Mula Mulanira salah satu primordialisme budaya Desa Songgokerto, Kota Batu. Jumat (19/7/2024). (Kabul for JN)
Kota Batu, JN – Desa Songgokerto di Kecamatan Batu, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur adalah salah satu desa yang masih mempertahankan primordialisme budaya dan melestarikan unsur-unsur adi luhung sejarah cikal bakal.
Terutama pada momentum bulan Suro, berbagai kegiatan budaya kerap digelar. Event 'ngarak banteng 1 Suro Empu Supo' misalnya, mengusung tema 'Mulih Mula Mulanira' menyampaikan pesan untuk senantiasa hidup lurus.
Mulih Mula Mulanira memiliki arti; dulu, sekarang, dan besok adalah satu kaitan yang lurus maka untuk memahami masa mendatang, kita harus memahami masa lalu.
Ketua Dewan Kesenian Kota Batu (DKKB) Gembong Sunarto menjelaskan, maksud dari uraian Malih Mula Mulanira mengajak kita agar jangan melupakan tatanan dan tuntunan yang berawal dari asal muasal.

"Kodrat kebebasan makhluk tetap ada batasan, karena kemutlakan hakiki hanya milik Hyang Akaryo Jagad. Tetep iling ben ora sliring lan sinting). Tetap di jalan kendalining diri, jangan lepas kendali, biar tidak lupa diri," ungkapnya.
Sementara Penggerak Paguyuban Bantengan Empu Supo Udik Arianto menjelaskan, tujuan di selenggarakan event ini cenderung sebagai wujud rasa syukur, uri-uri budaya, serta pelestarian dan pemajuan kebudayaan sebagai bukti menjaga identitas bangsa.
"Dengan adanya event 'seni kejadian berdampak' dapat memberi dampak positif bagi ekonomi,sosial seni dan budaya. Harapan kami pada tahun-tahun mendatang bisa lebih berkembang dan berdampak bagi lingkungan dan budaya lokal, dengan seni yang adi luhung dan bermartabat," ungkap Udik Arianto.

Sementara itu, Humas Paguyuban Bantengan Empu Supo Choirul Amirudin menyatakan antusiasme masyarakat dan penggiat budaya di Kota Batu sangat tinggi. Terbukti, peserta event dan penonton membeludak menyaksikan event tahunan ke 16 ini.
"Acara ini diikuti ratusan kelompok Bantengan yang ada di Kota Batu dan Malang Raya, bahkan uniknya di acara ini bisa merangkul kesenian-kesenian lain yang berbeda genre. Mulai dari seni teater, tari, musik dan lain-lain," imbuhnya.
Sebagai informasi, acara yang digelar pada Selasa 9 Juli 2024 lalu diawali pemberangkatan peserta kirab dari cucuk lampah paguyuban Tosan Aji Sanggha Braja Kota Batu. Selanjutnya Komunitas Pecut Samandiman Dari Kediri Blitar Nganjuk.
Diteruskan barisan Pecut di sambung barisan kelompok-kelompok Bantengan se-Malang Raya yang di iringi musik bantengan Empu Supo kolaborasi dengan musik etnik BamBamBoe.

Rangkaian acara ini juga di lakukan launching atau rilis batik khas Mpu Supo yang di beri nama 'Rwa Bhineda' yang di karyakan secara kolaborasi oleh Ki Joko Laksono Putro dan Paguyuban bantengan Empu Supo,dengan mengangkat makna perbedaan sebagai simbol keseimbangan semesta,yang diserahkan dari Udik Arianto kepada Romo Suroso budayawan dari Bali .
Pada acara tersebut, juga ada penyerahan wayang kulit Dadung Awuk sebagai ikon Paguyuban Bantengan Empu Supo, dari dalang muda Kota Malang KI Yudhistira Setyo Lumakso kepada Udik Arianto sebagai penggagas sekaligus perwakilan Banteng Empu Supo.
Dukungan luar biasa juga dari berbagai macam instansi seperti halnya Dewan Kesenian Kota Batu, Dinas Pariwisata Kota Batu, pramuwisata Songgoriti, masyarakat Songgoriti, paguyuban Villa Songgoriti dan beberapa komunitas audio seperti halnya Calista Sound System dan bantuan keamanan dari Polsek Batu, Polres Batu, dan TNI dari Koramil Batu. (**)
Pewarta: Doi Nuri
Editor: Buang Supeno