Loading...

Pengunjung

Opini Akademisi UIN Bandung: Tradisi Mudik Lebaran Simpan Dilema Sosial

admin

admin

Jumat, 20 Maret 2026 - 20:30

1067 | Bagikan

Opini Akademisi UIN Bandung: Tradisi Mudik Lebaran Simpan Dilema Sosial

admin - Opini

Jumat, 20 Maret 2026 - 20:30 | 1067

Ilustrasi mudik yang telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Sabtu (21/3/2026). (Kontri/JN)

KOTA BANDUNG, jurnalnusa.com — Tradisi mudik yang selalu mengiringi perayaan Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan, tetapi juga menyimpan dinamika sosial yang kompleks.

Hal tersebut diungkapkan oleh Syarifani Herdianti, Agus Permana, dan Tarpin dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam kajian yang dimuat di Jurnal Historia Madania.

Dalam kajian tersebut, para akademisi menilai fenomena mudik merupakan mata rantai sosial yang terbentuk dari cara masyarakat Muslim memaknai Lebaran.

Seiring waktu, terjadi pergeseran makna Idulfitri yang tidak lagi semata sebagai momentum spiritual, tetapi juga berkembang menjadi fenomena sosial-budaya yang kuat.

Mereka menjelaskan bahwa tradisi mudik berkaitan erat dengan sistem kekerabatan masyarakat Indonesia yang cenderung memandang keluarga sebagai keluarga besar (extended family).

Fenomena ini membuat pertemuan lintas generasi saat Lebaran menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan menjadi kebutuhan sosial.

“Dorongan untuk berkumpul dengan keluarga besar menjadi alasan utama masyarakat melakukan perjalanan mudik, meskipun harus menempuh jarak jauh,” tulis mereka dalam kajian tersebut.

Namun di balik nilai kultural tersebut, mudik juga dinilai menyimpan dilema. Para penulis mengungkap bahwa tradisi ini turut membuka realitas ketimpangan sosial di tengah masyarakat.

Hasrat kuat pemudik untuk pulang kampung seringkali berhadapan dengan berbagai risiko dan keterbatasan.

Fenomena mudik, lanjut mereka, kerap diiringi dengan meningkatnya kemacetan, angka kecelakaan lalu lintas, hingga potensi kriminalitas di berbagai daerah.

Selain itu, aktivitas ekonomi musiman yang muncul saat mudik juga dinilai dapat memicu ketidakstabilan, terutama ketika dimanfaatkan oleh sebagian pelaku usaha untuk meraup keuntungan berlebih.

Meski demikian, tradisi mudik tetap dipandang sebagai bagian dari kearifan budaya bangsa yang sulit dipisahkan dari identitas masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, para akademisi menilai diperlukan pendekatan yang lebih bijak dalam menyikapi fenomena ini, baik dari sisi kebijakan maupun kesadaran masyarakat.

Kajian ini menegaskan bahwa mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan fenomena sosial yang mencerminkan dinamika budaya, ekonomi, dan struktur sosial masyarakat Indonesia yang terus berkembang. (**)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri

Disclaimer:
Tulisan opini yang dimuat di jurnalnusa.com sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Segala pandangan, pendapat, analisis, dan pernyataan yang disampaikan tidak mencerminkan sikap maupun kebijakan redaksi jurnalnusa.com.
Redaksi tidak bertanggung jawab atas segala dampak yang timbul akibat isi tulisan tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pembaca diharapkan dapat menyikapi setiap opini secara bijak dan kritis.