Loading...

Pengunjung

Libur Nataru 2025–2026 Sepi, Pengusaha Pariwisata Kota Batu Mengeluh

admin

admin

Minggu, 11 Januari 2026 - 18:09

1128 | Bagikan

Libur Nataru 2025–2026 Sepi, Pengusaha Pariwisata Kota Batu Mengeluh

admin - Pariwisata

Minggu, 11 Januari 2026 - 18:09 | 1128

Kebun Bunga di Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Senin (12/1/2026). (Portal Juna for JN)

KOTA BATU, jurnalnusa.com — Harapan pelaku usaha pariwisata di Kota Batu untuk meraup keuntungan selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) pupus.

Alih-alih panen wisatawan, mayoritas pengusaha justru mengeluhkan sepinya kunjungan yang terjadi hampir sepanjang periode libur panjang.

Lesunya aktivitas pariwisata tercermin dari data Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu yang mencatat jumlah kunjungan hanya 674.195 wisatawan pada periode 13 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.

Angka tersebut jauh di bawah target 1,1 juta wisatawan, atau baru terealisasi sekira 61 persen.

Penurunan ini dirasakan langsung oleh para pengusaha, mulai dari pengelola objek wisata, hotel, hingga pelaku usaha penunjang.

Seorang pengelola objek wisata di Kota Batu yang enggan disebutkan namanya mengaku omzet libur akhir tahun kali ini turun drastis dibanding tahun sebelumnya.

“Biasanya libur Nataru itu ramai sekali, bahkan harus antre panjang. Tapi tahun ini terasa lengang. Pendapatan jelas turun, jauh dari harapan,” keluhnya.

Hal senada disampaikan pengusaha hotel dan penginapan. Tingkat hunian kamar (okupansi) disebut tidak mencapai target, meskipun tarif sudah ditekan dan berbagai promo ditawarkan.

Data Disparta Kota Batu menunjukkan, kunjungan sektor akomodasi hanya mencapai 108.192 wisatawan, sementara kunjungan ke objek daya tarik wisata (ODTW) tercatat 565.436 orang.

“Kami sudah turunkan harga dan buat paket menarik, tapi tetap saja tamu tidak seperti tahun lalu. Banyak kamar kosong, terutama di hari biasa selama liburan,” ungkap seorang pengelola hotel.

Meski demikian, para pengusaha berharap pemerintah daerah tidak tinggal diam. Mereka mendorong adanya langkah konkret untuk memulihkan sektor pariwisata, mulai dari promosi yang lebih agresif, event penarik wisatawan, hingga insentif bagi pelaku usaha.

“Kami berharap ada gebrakan dari pemerintah. Pariwisata ini roda ekonomi banyak orang, bukan hanya pengelola wisata, tapi juga UMKM, sopir, pedagang, dan pekerja lainnya,” kata pria yang enggan disebutkan namanya.

Dari catatan Disparta, penurunan ini tergolong tajam jika dibandingkan periode Nataru sebelumnya.

Pada Nataru 2024, Kota Batu mampu menarik 1.142.767 wisatawan, sehingga dalam setahun terakhir terjadi penurunan hampir 39 persen.

Secara rata-rata harian, jumlah kunjungan juga merosot dari sekitar 20 ribu wisatawan per hari menjadi hanya 6 ribu wisatawan per hari.

Kepala Disperta Kota Batu, Onny Ardianto, membenarkan kondisi tersebut dan menyebut laporan pelaku usaha memang menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Ia menilai melemahnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang dirasakan langsung oleh pengusaha.

“Banyak masyarakat yang kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Dampaknya sangat terasa bagi pelaku usaha pariwisata,” ujar Onny.

Selain faktor ekonomi, cuaca ekstrem juga menjadi keluhan para pengusaha. Intensitas hujan yang tinggi selama libur Nataru membuat sebagian wisatawan membatalkan atau menunda perjalanan, terutama wisata keluarga.

“Cuaca kurang bersahabat, hujan hampir setiap hari di momen libur. Ini sangat berpengaruh pada keputusan wisatawan untuk datang,” imbuhnya.

Disparta Kota Batu sendiri mencatat bahwa meski menurun, sejumlah destinasi unggulan seperti Jawa Timur Park Group, Selecta, dan desa-desa wisata masih menjadi tujuan favorit wisatawan.

Mayoritas pengunjung berasal dari Jawa Timur, disusul DKI Jakarta dan Jawa Barat, sementara wisatawan mancanegara tercatat dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Kondisi libur Nataru 2025–2026 ini menjadi peringatan serius bagi pelaku usaha dan pemerintah daerah.

Namun di tengah ketidakpastian ekonomi dan tantangan cuaca, pengusaha pariwisata berharap sektor andalan Kota Batu tersebut segera mendapatkan perhatian dan strategi pemulihan yang lebih nyata. (**)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri