Loading...

Pengunjung

Selecta Living Museum, Destinasi Baru Wisata Sejarah di Kota Batu

admin

admin

Selasa, 27 Januari 2026 - 19:06

1129 | Bagikan

Selecta Living Museum, Destinasi Baru Wisata Sejarah di Kota Batu

admin - Pariwisata

Selasa, 27 Januari 2026 - 19:06 | 1129

Selecta jadi Living Museum, daya tarik baru wisata sejarah di Kota Batu. Selasa (27/1/2026). (Doi/JN)

KOTA BATU, jurnalnusa.com — Selecta resmi jadi Living Museum, Batu Heritage Walking Tour hidupkan sejarah dan ekonomi kerakyatan.

Taman rekreasi tertua di Kota Batu itu menjadi destinasi wisata bernuansa sejarah paling lengkap di Kota Batu, Jawa Timur.

Konsep Living Museum memperkuat posisi Selecta tidak hanya sebagai taman rekreasi keluarga, tetapi juga sebagai ruang wisata edukatif yang menghadirkan pengalaman sejarah secara langsung.

Penetapan tersebut diperkuat melalui kegiatan Batu Heritage Walking Tour ke Living Museum Selecta yang digelar Selasa (27/1/2026), hasil kolaborasi Selecta, Indonesia Creative City Network (ICCN), dan Mandala Creative House.

Kegiatan ini menjadi paket wisata tematik yang menggabungkan rekreasi, edukasi, dan narasi sejarah dalam satu lintasan perjalanan.

Peserta diajak menyusuri sejumlah titik bersejarah yang masih terawat dan aktif digunakan hingga kini, di antaranya Hotel Selecta, Villa Bimasakti, Taman Lumut, Resto Asri, Taman Bunga, hingga kolam renang ikonik Selecta yang telah dikenal lintas generasi.

Seluruh rute ditempuh dengan berjalan kaki, menghadirkan pengalaman wisata sejarah yang imersif.

Sebagai destinasi yang telah berdiri sejak era kolonial Belanda, Selecta menyimpan lapisan sejarah penting bangsa Indonesia.

Kawasan ini menjadi saksi tiga periode besar sejarah, yakni masa Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga era Indonesia merdeka.

Bahkan, Selecta tercatat sebagai salah satu lokasi perenungan Presiden Soekarno dalam merumuskan kebijakan strategis perjuangan kemerdekaan.

Guide Mandala Creative House, Dino Dirk, menjelaskan bahwa konsep living museum menjadikan sejarah di Selecta tidak berhenti sebagai artefak visual semata, tetapi dihadirkan sebagai pengalaman wisata yang hidup.

“Wisatawan tidak hanya melihat bangunan atau taman, tetapi juga merasakan suasana, mendengar kisah otentik, dan memahami peran historis kawasan ini dalam perjalanan bangsa,” ujarnya.

Keunikan lain yang menjadi daya tarik wisata sejarah Selecta adalah nilai ekonomi kerakyatan yang melekat di dalamnya.

Selecta dimiliki oleh lebih dari seribu orang dan menjadi contoh nyata model kepemilikan bersama yang bertahan lintas generasi. Narasi ini menjadi bagian penting dari paket wisata edukatif yang ditawarkan kepada pengunjung.

“Ini bukan hanya wisata masa lalu, tetapi juga pembelajaran tentang sistem ekonomi yang masih relevan hingga hari ini,” kata Dino.

Direktur Utama PT Selecta, Sujud Hariadi, menilai konsep living museum membuka peluang besar pengembangan wisata minat khusus, khususnya wisatawan yang mencari pengalaman sejarah dan edukasi.

“Selecta memiliki kekuatan cerita sejarah yang lengkap. Dengan pengemasan yang tepat, ini menjadi daya tarik wisata baru yang membedakan Selecta dari destinasi lain,” ujarnya.

Menurut Sujud, meski secara badan hukum berbentuk perseroan terbatas, Selecta dijalankan dengan semangat kepemilikan bersama yang menjadi ruh pengelolaan kawasan sejak 1950.

Nilai ini kini dikemas sebagai bagian dari narasi wisata sejarah yang edukatif.

Sementara itu, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, Muhammad Anwar, menyebut pengembangan Living Museum Selecta sebagai bagian dari strategi memperkuat wisata pusaka (heritage tourism) Kota Batu melalui jejaring nasional ICCN.

“Wisata sejarah seperti ini memperkaya portofolio pariwisata Kota Batu. Tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mendorong pelestarian kawasan heritage secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan konsep living museum, Selecta kini menawarkan alternatif wisata berbasis sejarah yang mampu menjawab tren wisata edukatif dan minat khusus.

Kehadiran paket wisata ini diharapkan memperkuat daya saing Kota Batu sebagai destinasi wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga sarat nilai sejarah dan budaya. (*)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri