Asa Remaja 'Istimewa' Rizky Eka Saputra dari Skariga Malang Tembus UB
Jumat, 25 April 2025 - 04:50
Asa Remaja 'Istimewa' Rizky Eka Saputra dari Skariga Malang Tembus UB
Jumat, 25 April 2025 - 04:50 | 1655
Rizky Eka Saputra mengejar mimpinya menjadi mahasiswa UB. Jumat (25/4/2025). (Ayub for JN)
Kota Malang, JN — Semua manusia memiliki hak untuk hidup dan berkembang. Itulah yang kini sedang diperjuangkan penyandang difabel bernama Rizky Eka Saputra.
Remaja yang kini sedang menempuh pendidikan menengah di SMK PGRI 3 (Skariga) Malang itu, mengejar mimpi untuk bisa duduk sebagai mahasiswa Teknik Informatika Universitas Brawijaya (UB).
Dengan keyakinan dan semangat juang yang tinggi, Rizky mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), seperti yang diunggah oleh laman web Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Rabu (23/4/2025) lalu.
FISIP UB memang ditunjuk menjadi lokasi peserta tes peserta disabilitas di SNBT 2025 yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya.
Bersaing dengan ratusan peserta SNBT berdatangan dengan harapan masing-masing, Rizky beserta 15 difabel berjuang dengan mimpi besar.
Sebagai informasi, total ada 16 peserta disabilitas mulai dari Tuna Daksa, Tuna Rungu dan Tuna Netra yang menjalani tes SNBT di UB.
“Jangan pernah merasa kecil dengan keterbatasan. Kita semua punya ruang dan kesempatan yang sama untuk berjuang walau mungkin memang jalannya tidak selalu mudah,” katanya.
Bagi Rizky, mengikuti SNBT bukan sekadar mengerjakan ujian. Namun tentang menanam harapan dan keberanian untuk sebuah perjuangan.
“Saya suka matematika walaupun menurut saya itu pelajaran paling susah. Tapi karena saya juga dari jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak), saya memilih Informatika yang linier dan juga lebih aplikatif,” ujar Rizky.
Rizky juga memberikan motivasi terutama kepada teman-teman yang memiliki keterbatasan fisik seperti dirinya, agar tetap semangat dalam mengejar cita-cita.
"Tuhan selalu punya rencana dan ketetapan terbaik bagi setiap hambanya. Sekarang kembali kepada kita, mau menjemput takdir itu atau tidak," pungkasnya. (**)
Pewarta: Rendi Rakita Dewa
Editor: Doi. Nuri