Literasi Digital Bagi Anak Bak 'Bullring', Sarat Pendampingan
Selasa, 12 September 2023 - 12:03
Literasi Digital Bagi Anak Bak 'Bullring', Sarat Pendampingan
Selasa, 12 September 2023 - 12:03 | 530
Bullring atau arena adu banteng, ibarat media literasi digital pada pendidikan anak-anak yang harus didampingi. (JN)
Pendidikan, JN – Selain orang tua asuh di keluarga, peran pendidik di sekolah berperan penting dalam mengajarkan literasi digital. Sekaligus, berkewajiban memiliki quality control sistem atas hal tersebut.
Jika literasi digital terhadap anak dibiarkan begitu saja, maka pola pendidikan seperti bullring atau arena adu banteng, yakni antara olahraga atau bunuh diri.
Melansir cyberwise.org dalam era digital yang berkembang dengan cepat saat ini, mempersiapkan siswa sekolah menengah untuk jadi warga digital yang bertanggung jawab dan beretika menjadi hal yang terpenting.
Atas hal tersebut, keterlibatan orang tua dan wali penting dalam pendidikan literasi digital, dan menawarkan strategi praktis untuk memperluas pendidikan.
Dengan melibatkan orang tua dalam pendidikan literasi digital, keluarga dapat bersama-sama menciptakan lingkungan pembelajaran online yang aman dan mendukung di mana perilaku digital yang bertanggung jawab dipraktikkan.
Kolaborasi ini memperkuat pembelajaran di sekolah dan membantu siswa menerapkannya dalam interaksi online di dunia nyata.
Tanggung jawab pengawalan literasi digital kepada anak, harus dimulai pengguna individu, lingkungan rumah, guru, penyedia layanan, serta pemerintah atau negara. Oleh karena itu, pendidikan seorang anak harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Para orang tua dan pendidik kiranya harus memahami literasi digital, seperti privasi online, cyberbullying, dan literasi media.
Tak hanya itu, para orang tua bisa membuat bagian khusus di situs web atau web sekolah tempat agar dapat mengakses sumber daya, artikel, dan tutorial terkait dunia digital.
Termasuk tautan ke pembelajaran cyber civics, alat keamanan online, dan sumber tepercaya untuk mengikuti perkembangan tren online.
Selanjutnya membangun kolaborasi antara orang tua dan guru, ini menjadi jalur komunikasi terbuka antara guru dan orang tua mengenai topik literasi digital yang tercakup dalam kurikulum.
Memperluas pendidikan literasi digital di luar kelas melalui keterlibatan orang tua adalah cara yang efektif untuk membekali siswa dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk berinteraksi secara online dan aman secara bertanggung jawab.
Dengan berkolaborasi, berbagi sumber daya, dan memfasilitasi percakapan yang bermakna, kita dapat memastikan bahwa generasi muda kita menjadi warga digital yang aman, beretika, dan produktif, baik di sekolah maupun di rumah.
Dengan demikian, maka akan meminimalisir peluang penyalahgunaan literasi digital oleh anak-anak pada fase belajar mereka. (**)
Pewarta: Eshan Abyasa
Editor: Doi Nuri