Mahasiswi ITN Malang Ciptakan “Plastik” yang Bisa Dimakan, Raih Predikat Lulusan Terbaik
Senin, 13 April 2026 - 04:11
Mahasiswi ITN Malang Ciptakan “Plastik” yang Bisa Dimakan, Raih Predikat Lulusan Terbaik
Senin, 13 April 2026 - 04:11 | 1180
Trustha Aurora Firdauza mendapatkan predikat lulusan terbaik. Senin (13/4/2026). (Humas ITN for JN)
KOTA MALANG, jurnalnusa.com — Inovasi sederhana namun berdampak besar lahir dari tangan seorang mahasiswi Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional Malang.
Trustha Aurora Firdauza berhasil menciptakan solusi ramah lingkungan berupa pembungkus bumbu mi instan yang dapat dimakan (edible film), sekaligus mengantarkannya menjadi lulusan terbaik pada Wisuda ke-75 Periode I Tahun 2026.
Gadis asal Wagir, Kabupaten Malang itu mencatatkan prestasi gemilang dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 dan menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun.
Ia dijadwalkan mengikuti prosesi wisuda pada Sabtu, 25 April 2026 mendatang.
Ketertarikan Trustha pada dunia kimia sudah tumbuh sejak bangku SMA. Kegelisahannya terhadap limbah plastik, khususnya dari pembungkus makanan instan, mendorongnya menghadirkan inovasi berbasis bahan alami yang lebih ramah lingkungan.
Edible Film dari Singkong dan Rumput Laut
Trustha mengembangkan edible film berbahan dasar pati singkong yang dikombinasikan dengan natrium alginat dari rumput laut.
Inovasi ini dirancang sebagai alternatif pengganti plastik pembungkus bumbu mi instan.
Tak hanya ramah lingkungan, ia juga menambahkan ekstrak bawang putih pada film tersebut.
Selain memberi aroma khas, kandungan ini berfungsi sebagai antibakteri sekaligus meningkatkan cita rasa bumbu.
“Inovasi ini untuk menggantikan plastik pembungkus bumbu mi instan. Dengan tambahan ekstrak bawang putih, hasilnya jadi lebih gurih,” ujarnya.
Proses pembuatannya relatif sederhana dan dapat dilakukan menggunakan peralatan laboratorium dasar.
Bahan-bahan yang digunakan meliputi pati singkong sebagai matriks utama, aquades sebagai pelarut, gliserol sebagai plasticizer agar lentur, serta natrium alginat untuk memperkuat struktur.
Larutan yang telah dicampur dipanaskan hingga mengalami gelatinisasi, kemudian dituangkan pada permukaan datar dan dikeringkan menggunakan oven selama 14 jam.
Hasilnya adalah lembaran tipis menyerupai plastik yang dapat dikonsumsi.
Ia dalam bimbingan dosen pembimbing, penelitian ini menguji berbagai parameter seperti ketebalan, kuat tarik, elongasi, kadar air, kelarutan, hingga aspek mikrobiologi.
Hasilnya menunjukkan bahwa variasi massa pati singkong dan waktu pengeringan berpengaruh signifikan terhadap kualitas edible film.
Menariknya, produk ini mampu bertahan hingga dua bulan pada suhu ruang, bahkan bisa mencapai empat bulan jika disimpan dalam kondisi vakum.
“Secara mikrobiologi sudah aman dan memenuhi standar SNI, meskipun elastisitasnya masih perlu pengembangan lebih lanjut,” tambahnya.
Aktif Organisasi dan Berprestasi
Tak hanya unggul secara akademik, Trustha juga aktif berorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) dan menjadi asisten Laboratorium Mikrobiologi.
Selain itu, ia juga berhasil membawa timnya lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2024 melalui inovasi mie kering berbasis spirulina.
Menurutnya, kunci keberhasilan adalah kemampuan mengelola prioritas antara akademik dan organisasi.
“Akademik tetap nomor satu. Kalau akademik bisa kita handle, organisasi pasti mengikuti,” tuturnya.
Dalam memimpin organisasi, ia mengedepankan pendekatan komunikasi santai dan diskusi internal sebelum mengambil keputusan besar.
Cara ini dinilai efektif untuk menyatukan berbagai pandangan di dalam tim.
Inovasi yang dihasilkan Trustha menjadi bukti bahwa kreativitas mahasiswa dapat berkontribusi nyata dalam menjawab persoalan lingkungan, sekaligus membuka peluang pengembangan produk pangan berkelanjutan di mendatang. (**)
Pewarta: Doi Nuri
Editor: Rio Mulyana Badia