Gema Takbir Beriring Letusan, Gunung Semeru Erupsi Saat Idulfitri 1447 H
Sabtu, 21 Maret 2026 - 09:33
Gema Takbir Beriring Letusan, Gunung Semeru Erupsi Saat Idulfitri 1447 H
Sabtu, 21 Maret 2026 - 09:33 | 1190
Erupsi Gunung Semeru tepat momentum Idulfitri 1447 H. Sabtu (21/3/2026). (Kontri/JN)
KABUPATEN LUMAJANG, Jurnalnusa.com — Gema takbir yang berkumandang menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di wilayah lereng Gunung Semeru mendadak beriring dengan suara gemuruh erupsi, Sabtu (21/3/2026) dini hari.
Aktivitas vulkanik tersebut menambah suasana haru sekaligus kewaspadaan masyarakat yang tengah merayakan hari kemenangan.
Berdasarkan laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pada pukul 02.12 WIB.
Kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas puncak atau kurang lebih 4.676 meter di atas permukaan laut.
“Telah terjadi erupsi G. Semeru, Jawa Timur pada tanggal 21 Maret 2026 pukul 02.12 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak (± 4.676 mdpl),” demikian keterangan resmi PVMBG yang dilansir Jurnalnusa.com.
Kolom abu dilaporkan berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah tenggara.
Sementara itu di saat yang sama, gema takbir dari masjid dan musala tetap terdengar, menciptakan kontras suasana antara perayaan keagamaan dan aktivitas alam yang meningkat.
PVMBG juga mencatat erupsi disertai awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 4.500 meter ke arah Curah Kobokan.
Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 6 menit 28 detik.
Sebelumnya, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Semeru juga telah terpantau pada Jumat (20/3/2026) sekitar pukul 05.00 WIB, sehingga masyarakat telah diminta meningkatkan kewaspadaan.
Saat ini, status gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan bagi warga, khususnya yang bermukim di kawasan rawan bencana.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Selain itu, warga juga diminta tetap mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas terkait guna menghindari risiko dari potensi erupsi susulan.
Walaupun tengah suasana Idulfitri yang penuh khidmat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa harmoni antara manusia dan alam harus senantiasa dijaga, serta kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama. (**)
Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri