Bung Karno Faktor Yang Akan Mempertemukan Megawati dan Prabowo
Rabu, 15 Januari 2025 - 06:49
Ahmad Basarah dalam orasi politiknya. Jakarta (15/1/2025). (Zakaria for JN)
Jakarta, JN – Rencana pertemuan dan silaturahmi antara Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto sudah digagas sejak beberapa bulan lalu melalui kader-kader Gerindra dan PDI Perjuangan.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Ahmad Basarah mengatakan, sinyal Megawati bersedia merencanakan pertemuan dengan Prabowo Subianto, salah satunya disampaikan dalam pesan Mega yang diamanatkan kepadanya.
Basarah mengaku mendapatkan pesan untuk disampaikan kepada Prabowo melalui Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Ahmad Muzani tanggal 17 Oktober 2024 lalu.
Pertemuan strategis itu, disebut Basarah berlangsung di ruang kerja Ketua MPR di Gedung Nusantara III Komplek DPR/MPR/DPD RI.
"Salah satu amanat Bu Mega yang sudah saya sampaikan kepada Pak Muzani saat itu adalah pesan bahwa beliau bersedia bertemu dengan Pak Prabowo, namun waktunya akan dilakukan setelah Presiden Prabowo menyusun dan melantik semua menteri kabinetnya," papar dia. Rabu (15/1/2025).
Hal itu, dikatakan Basarah, memberikan pesan yang kuat bahwa jika Bu Mega dan Pak Prabowo suatu saat bertemu langsung, tidak ada kaitannya dengan urusan kursi kabinet.
Selain itu, Basarah mengatakan jika Mega juga memberikan alasan mengapa ia bersedia untuk bertemu langsung dengan Prabowo.
"Bu Mega menjelaskan, karena memang antara beliau dan Pak Prabowo tidak pernah punya masalah, dan tetap bersahabat baik dari sejak dulu hingga saat ini," imbuh dia.
Kesediaan Megawati bertemu Prabowo, diceritakan Basarah, bukan baru kali ini saja dikemukakan. Pesan bahwa Mega bersedia untuk bertemu dengan Prabowo sudah disampaikan Mega jauh hari sebelumnya.
"Kerekatan hubungan Bu Mega dan Pak Prabowo bertambah kuat boundingnya, ketika saya laporkan hasil pertemuan Pimpinan MPR 2019-2024 dengan Pak Prabowo, pada tanggal 30 September 2024 di ruang kerja Menhan RI," jelasnya.
Pada saat itu, Basarah menyebut ada sekitar 10 orang Pimpinan MPR, dipimpin Pak Bambang Soesatyo menyampaikan surat Pimpinan MPR kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto tentang permohonan tindak lanjut pemulihan nama baik Bung Karno.
Hal tersebut setelah pimpinan MPR membuat surat penegasan tidak berlakunya lagi TAP MPRS Nomor XXXIII Tahun 1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno dan penegasan bahwa tuduhan Presiden Soekarno telah mendukung pemberontakan G30S/PKI tidak pernah dibuktikan dan batal demi hukum.
Basarah menyebutkan, Prabowo merespon surat Pimpinan MPR tersebut dan mengatakan, “tanpa surat pimpinan MPR ini, kalau menyangkut hak-hak Bung Karno jika saya sudah menjabat sebagai Presiden nanti pasti akan saya kerjakan, " ujarnya menirukan ucapan presiden.
"Bahkan Pak Prabowo mengatakan, tolong sampaikan kepada Ibu Megawati dan Mas Guntur Soekarno Putra kalau saya juga adalah seorang pengagum dan pencinta Bung Karno" kata Basarah.
Melanjutkan ceritanya, Basarah mengisahkan jika Prabowo kemudian menunjuk tangannya ke arah meja kerja utamanya sebagai Menhan RI kala itu, yang dibelakangnya terdapat lukisan besar Bung Karno sedang menunggang kuda.
*Seluruh hasil pertemuan dan pembicaraan saya bersama Pimpinan MPR lainnya dengan Pak Prabowo tersebut kemudian saya laporkan kepada Bu Mega," tandas dia.
Sejak saat itulah, Basarah mengatakan jika sebenarnya Bu Mega sudah ingin bertemu langsung dengan Prabowo untuk mengucapkan terima kasih atas respon yang begitu baik beliau tentang pemulihan nama baik Bung Karno.
"Namun, ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo tersebut akhirnya baru disampaikan dalam pidato resmi HUT PDI Perjuangan ke 52 tanggal 11 Januari 2025 lalu," imbuhnya.
Dengan demikian, Basarah memandang jika faktor Bung Karno lah yang akan mempertemukan antara Megawati dan Pak Prabowo Subianto, selain faktor persahabatan mereka berdua yang sangat baik.
Selain faktor tersebut, Basarah mengemukakan alasan lain yang membuat Megawati bersedia bertemu Presiden Prabowo, adalah karena Mega sangat concern memikirkan perkembangan situasi global dan potensi krisis dunia akibat perang antarbangsa dan krisis lingkungan hidup serta krisis pangan dunia akibat pemanasan global.
"Bu Mega mengkhawatirkan berbagai krisis dunia itu akan berdampak langsung terhadap nasib rakyat dan bangsa Indonesia," tunas dia.
"Saya meyakini sepenuhnya, jika insya Allah terjadi pertemuan antara Presiden RI ke-5 dengan Presiden RI ke-8, yang ada di hati dan pikiran serta yang akan dibicarakan Bu Mega dengan Presiden Prabowo adalah tentang nasib dan masa depan Indonesia Raya," pungkas Basarah. (**)
Pewarta: Zara Putri Islamia Aiska
Editor: Doi Nuri