Dosen program studi Psikologi Dr. Zainul Anwar menjelaskan beberapa manfaat puasa untuk kesehatan mental. Ahad (7/4/2024).
Kota Malang, JN – Dosen program studi Psikologi Dr Zainul Anwar SPsi MPsi sekaligus Psikolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan beberapa manfaat puasa untuk kesehatan mental.
Zainul memaparkan, Puasa tidak hanya sekedar menahan nafsu haus dan lapar, namun puasa juga berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental seseorang.
"Tak hanya berguna untuk kesehatan fisik, ternyata puasa juga memiliki manfaat untuk kesehatan mental," ungkap dia.
Pertama, ia menyatakan, puasa membuat emosi menjadi lebih stabil. Orang yang berpuasa terbiasa untuk menahan atau mengelola emosi.
"Mulai dari mengelola hal yang sifatnya biologis sampai mengelola hal yang sifatnya psikologis. Sehingga ketika berpuasa, emosi akan lebih terkontrol dan stabil," imbuh dia.
Kedua, lebih memiliki empati. Ketika berpuasa, sebenarnya kita juga diajarkan untuk berempati. Dengan berempati, mental kita akan berkembang lebih positif dan sehat.
“Sebab dengan membantu atau menolong orang lain, otomatis akan membuat psikis kita menjadi lebih bersemangat,” ucapnya.
Ketiga, membuat mental menjadi lebih sehat khususnya terkait dengan berbagai tekanan dalam hidup. Contohnya, tekanan stress. Stress akan lebih mudah dikelola dengan berpuasa.
"Ada pantangan yang harus kita hindari saat berpuasa. Contohnya menggibah, yang secara psikologis itu sifatnya dapat menimbulkan stress," sambung dia.
Dengan berpuasa, masih kata Zainulhal-hal tersebut sebisa mungkin kita hindari yang juga membuat kita terhindar dari stress.
Keempat, berpuasa dapat menjadikan kita lebih produktif. Kelima, berpuasa dapat membuat hidup menjadi lebih teratur.
"Tidak ada dampak negatif yang dihasilkan puasa bagi kesehatan mental seseorang," tukas dia.
Dengan catatan, lanjut Zainul, puasanya dijalankan dengan serius. Jika kita hanya sekedar puasa untuk menjalankan kewajiban, pasti kita akan lebih banyak mengeluh.
Misalnya, iarncobb mengeluhkan hal yang sifatnya biologis, seperti lapar dan haus. Kemudian menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
“Padahal seharusnya saat berpuasa, kita jadi lebih produktif dan semangat. Tentunya dalam hal-hal yang bersifat positif,” jelasnya.
Jika kaum muslim menjadikan puasa sebagai beban, mungkin dapat membuat semua orang semakin tertekan dan stress.
Namun jika mengikuti aturan puasa yang ada, maka tidak akan menimbulkan efek negatif apapun secara psikologis. Saat merasa stress saat berpuasa, maka cobalah untuk mengubah pola pikir kita.
“Cobalah menjalani puasa dengan perasaan yang lebih santai dan bahagia. Puasa Ramadan hanya ada sebulan dalam setahun, maka sambut dan jalankanlah perintah dari Yang Maha Kuasa ini dengan ikhlas. Insyaallah akan ada dampak dan balasan yang indah untuk kita saat atau setelah menjalankannya,” pungkasnya. (**)
Pewarta: Michel Z Sima
Editor: Doi Nuri