Loading...

Pengunjung

Menelusuri Identitas Busana Khas Malang: Dari Jejak Kolonial hingga Reinterpretasi Kontemporer

admin

admin

Jumat, 10 April 2026 - 21:43

2039 | Bagikan

Menelusuri Identitas Busana Khas Malang: Dari Jejak Kolonial hingga Reinterpretasi Kontemporer

admin - Sosial Budaya

Jumat, 10 April 2026 - 21:43 | 2039

Foto warisan budaya Malang. (Dwi Cahyono for JN)

Kota Malang, jurnalnusa.com — Perdebatan mengenai identitas busana khas Malang kembali mengemuka. Pendiri Yayasan Inggil, Dwi Cahyono, menegaskan bahwa jati diri sebuah daerah tidak hanya tercermin dari bahasa, kuliner, atau arsitektur, tetapi juga dari busana yang dikenakan masyarakatnya.

Menurutnya, Malang sebagai kota bersejarah yang telah melalui berbagai era—mulai dari Kerajaan Kanjuruhan, Kerajaan Singhasari, Kerajaan Majapahit, hingga masa kolonial Belanda—memiliki kekayaan budaya yang seharusnya tercermin dalam ragam busana khas.

“Identitas busana Malang selama ini kerap tenggelam dalam perdebatan tanpa aksi nyata. Padahal, sejarah panjang kota ini menyediakan fondasi kuat untuk membangun karakter busana yang otentik,” ujar Dwi.

Seragam Basofian dan Keseragaman Jawa Timur

Selama ini, busana yang kerap diasosiasikan sebagai “busana Malangan” justru merujuk pada busana Jawa Timuran yang lebih luas.

Busana ini berkembang pada era Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman melalui konsep “Seragam Basofian”.

Ciri khasnya meliputi udeng, jas hitam bergaya Eropa (adaptasi dari jas Rokkie Belanda), baju koko putih, kain batik pesisiran (sembong), serta aksesori seperti jam rantai dan selop.

Filosofinya merepresentasikan religiusitas, kedisiplinan waktu, serta akulturasi budaya.

Namun, Dwi yang mengaku terlibat dalam tim perancang busana tersebut pada 1993 menilai bahwa Malang memiliki karakteristik berbeda yang tidak bisa diseragamkan.

Malang sebagai Wilayah Strategis Sejarah

Ia memaparkan sejumlah fakta historis yang memperkuat posisi Malang sebagai wilayah penting:

- Basis strategis (terugval basis) dalam penguasaan Jawa Timur
- Pernah mewakili Hindia Belanda dalam ajang perencanaan kota di Paris tahun 1931
- Pusat pemerintahan Karesidenan Pasuruan sejak 1936
- Salah satu kota yang sempat dipertimbangkan sebagai calon ibu kota negara

“Karakter sejarah ini semestinya melahirkan identitas busana yang khas, bukan sekadar mengikuti standar regional,” tegasnya.

Jejak Kolonial dalam Busana Malang

Dwi juga meluruskan anggapan bahwa busana khas Malang terlalu berbau kolonial. Menurutnya, hampir seluruh busana Jawa modern merupakan hasil adaptasi dari pengaruh Eropa, khususnya Belanda.

Salah satu contohnya adalah beskap yang diyakini berasal dari kata Belanda beschaafd (beradab). Transformasi ini juga tampak pada inovasi Mangkunegara IV yang memodifikasi jas Belanda menjadi beskap dengan fungsi lokal.

Sementara di Malang sendiri, tokoh seperti Raden Ario Soerioadiningrat pada akhir abad ke-19 melakukan adaptasi serupa dengan memadukan jas kolonial, kain jarit, hingga celana panjang untuk kebutuhan mobilitas.

“Semua daerah mengalami proses adaptasi. Yang membedakan adalah bagaimana masing-masing wilayah memberi makna lokal pada busana tersebut,” jelasnya.

Klambi Indis: Reinterpretasi Seni Kontemporer

Sementara itu, pengurus Dewan Kesenian Malang, Dimas Novib S, melihat busana Malang dari perspektif seni kontemporer melalui konsep “Klambi Indis”.

Ia menilai bahwa busana era kolonial tidak harus selalu dimaknai sebagai simbol penjajahan, melainkan dapat direinterpretasi sebagai produk akulturasi budaya.

“Ini adalah bentuk rekonsiliasi budaya. Kita memisahkan trauma politik dari nilai estetika,” ujarnya.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep Third Space dari Homi K. Bhabha, di mana pertemuan budaya kolonial dan lokal melahirkan bentuk baru yang hibrida—tidak sepenuhnya Belanda, tidak pula sepenuhnya Jawa.

Contoh nyata dari akulturasi ini dapat dilihat pada kebaya encim dan baju koko, yang kini menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia.

Busana sebagai Ekspresi Identitas Kolektif

Menurut Dimas, dalam konteks seni, fashion bersifat “amoral” atau bebas dari beban ideologi.

Fokus utamanya adalah pada bentuk, tekstur, warna, dan komposisi visual yang mampu menciptakan estetika baru, termasuk konsep timeless elegance.

“Busana adalah cara kita menguasai kembali sejarah melalui kreativitas,” tambahnya.

Perlu Keberanian Membangun Identitas

Baik Dwi maupun Dimas sepakat bahwa Malang memiliki potensi besar untuk menghadirkan lebih dari satu jenis busana khas, sebagaimana daerah lain seperti Yogyakarta dan Surakarta.

Dengan sejarah panjang dari era kerajaan hingga kolonial, Malang dinilai memiliki kekayaan referensi yang cukup untuk melahirkan ragam busana yang merepresentasikan karakter Arek yang egaliter.

Kini, tantangannya terletak pada komitmen pemerintah dan masyarakat untuk tidak hanya mengenali, tetapi juga menghidupkan busana khas tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah Malang punya identitas busana, tetapi apakah kita mau merawat dan mengembangkannya,” pungkas Dwi. (**)

Pewarta: Doi Nuri
Editor: Rio Mulyana Badia