Peristiwa Sosial Aliran Sesat Sering Terjadi di Jawa Barat
Senin, 09 Oktober 2023 - 06:53
Peristiwa Sosial Aliran Sesat Sering Terjadi di Jawa Barat
Senin, 09 Oktober 2023 - 06:53 | 884
Gejolak sosial yang melibatkan ajaran atau sekte sesat, pernah terjadi di Jawa Barat. Senin 9 Oktober 2023. (Freepik)
Jawa Barat, SJP – Persoalan aliran kepercayaan baru, maupun ajaran spiritual yang menyimpang sering terjadi di Indonesia, tidak terkecuali Provinsi Jawa Barat.
Mengayomi 49,94 juta jiwa pada 2020, Jabar tentunya memiliki pekerjaan rumah atas pranata sosial dengan segala persoalannya, khususnya pencegahan munculnya aliran yang dianggap sesat.
Masih hangat, kasus terbaru adalah penyimpangan ajaran di Kabupaten Indramayu, Jabar, yakni Pondok Pesantren Al Zaytun.
Pengasuh Ponpes Al Zaytun, Panji Gumilang ditengarai memfatwakan bahwa Allah SWT tidak berbahasa Arab, serta tidak mengerti bahasa Indramayu, yang dianggap menistakan Tuhan dengan perumpamaan seperti manusia.
Faktanya, persoalan aliran kepercayaan baru yang dianggap sesat ini banyak tumbuh di kabupaten dan kota di Jabar. Artinya, mereka tumbuh dan hidup tanpa memandang wilayah tertentu.
Kemunculan mereka juga banyak menjadi pro dan kontra. Ada masyarakat yang mereasa terganggu, namun ada juga yang menjadi pengikutnya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun berperan penting dalam menghentikan aliran kepercayaan yang dinyatakan sesat itu. Mereka juga memberikan fatwa agar tidak diikuti oleh masyarakat.
Pada tahun 2007 silam di Gunung Bunder, Bogor, Jabar pria bernama Ahmad Musadeq memimpin sebuah perkumpulan bernama Al Qiyadah Al Islamiyah dan mengaku dirinya sebagai nabi.
Lantaran ajaran-ajarannya dianggap menyimpang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan kelompok Musadeq sebagai aliran sesat.
Al Qiyadah Al Islamiyah merupakan sebuah aliran kepercayaan yang melakukan sinkretisme ajaran dari Al-Qur'an, Injil, Yahudi, juga wahyu yang diklaim turun kepada pemimpinnya.
Meski telah dinyatakan menyesatkan, saat itu ratusan pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah tetap beraktivitas seperti biasa.
Mereka menggelar pengajian bersama di salah satu hotel di kawasan Jakarta Selatan pada Selasa, 24 Oktober 2007. Musadeq selaku pimpinan aliran turut hadir dalam pengajian tersebut.
Mengaku memiliki 41 ribu murid yang tersebar di sembilan kota di Indonesia, Musadeq menegaskan jika sebanyak 60 persen adalah mahasiswa dan mayoritas berada di Jakarta.
Selanjutnya, pengikut Musadeq di beberapa daerah pun mulai diberangus. Lalu, pada 29 Oktober 2007, Ahmad Musadeq bersama enam pengikutnya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.
Dua tahun sebelum ajaran Musadeq terungkap, aliran Kutub Robani muncul di Kampung Ciberas, Dusun Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi dengan pimpinan Mohammad hassan Sayidina Ghali Kutub Robani pada 2005 silam.
Namun, aliran ini berkembang di Kabupaten bekasi dan banyak ditemukan pengikutnya di wilayah itu. Kemudahan, polisi setempat langsung melakukan tindakan preventif agar tidak meresahkan masyarakat. Sayangnya informasi pasti dari aliran ini sangat sedikit.
Sementara itu, di Kabupaten Bandung dan Kota Depok sejak 2001 aliran Amanat Keagungan Ilahi (AKI) muncul dan mendapatkan pertentangan dari MUI saat itu.
MUI Depok menjelaskan bahwa aliran itu melenceng dari ajaran Islam karena tidak mewajibkan kepada pengikutnya untuk shalat dan puasa di bulan Ramadhan. Meski demikian, informasi pasti dari aliran ini sangat minim.
Bahkan jauh sebelum sekarang, pada tahun 1940 di Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Cirebon, Jabar, Muhammad Kusnan mendirikan aliran Hidup Dibalik Hidup. Ajaran Kusnan dilanjutkan Muhamad Ali bin Abdulah alias Mudjoni setelah ia meninggal.
Dalam buku panduan aktivitas ibadah, MUI Cirebon menemukan bahwa Kusnan adalah seorang yang mengaku bahwa dirinya telah berdialog dengan malaikat dan menjelajahi alam gaib.
Dengan temuan itu, akhirnya MUI Kabupaten Cirebon menyatakan aliran itu sebagai aliran sesat, keputusan ini diputuskan melalui fatwa MUI Kabupaten Cirebon tanggal 4 Februari 2010/19 safar 1431 H. (**)
Pewarta: Syafiq Mustofa
Editor: Doi Nuri