Wilujengan Gangsa Temas, Wayang Kulit “Wahyu Cakraningrat” Angkat Spirit Kepemimpinan Generasi Muda
Kamis, 16 April 2026 - 06:09
Wilujengan Gangsa Temas, Wayang Kulit “Wahyu Cakraningrat” Angkat Spirit Kepemimpinan Generasi Muda
Kamis, 16 April 2026 - 06:09 | 1158
Pamflet pergelaran wayang dalam acara Wilujengan Gangsa di Kelurahan Temas. Kamis (16/4/2026). (Medsos Ki Puput)
KOTA BATU, jurnalnusa.com — Masyarakat Kota Batu akan menjadi saksi sebuah peristiwa budaya penting bertajuk Wilujengan Gangsa, yakni selamatan gamelan baru milik Kelurahan Temas yang diberi nama sakral “Kyai Ageng Raden Jaka Swara”.
Kegiatan ini akan digelar pada Senin, 27 April 2026 mendatang, mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, bertempat di Pendopo Satrio Projo, Jalan Wukir nomor 79, Kelurahan Temas, dan terbuka untuk umum secara gratis.
Prosesi wilujengan ini akan dipuncaki dengan pergelaran wayang kulit spektakuler yang menghadirkan dalang Ki Eko Saputro, S.Sn., Ketua PEPADI Kota Batu.
Dalam pementasan tersebut, dalang yangbkarob disapa Ki Puput ini akan membawakan lakon filosofis “Wahyu Cakraningrat”.
Ki Puput mengungkapkan bahwa prosesi penyucian gamelan bukan sekadar seremoni formal, melainkan memiliki makna spiritual dan kultural yang mendalam.
Pergelaran wayang kulit dipilih sebagai medium untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat.
“Lakon Wahyu Cakraningrat ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarat pesan tentang kepemimpinan dan regenerasi. Ini menjadi simbol estafet perjuangan dari generasi tua kepada generasi muda,” ujar Ki Puput.
Dalam pakem pewayangan, Wahyu Cakraningrat merupakan kelanjutan dari lakon legendaris Makuto Romo (Wahyu Keprabon).
Jika dalam kisah sebelumnya tokoh Janoko berhasil meraih wahyu kepemimpinan, maka dalam lakon ini, Abimanyu tampil sebagai representasi generasi muda yang siap melanjutkan perjuangan.
Kisah ini juga menampilkan tokoh-tokoh ksatria seperti Lesmana Mandrakumara dan Samba, yang berjuang mendapatkan wahyu sebagai simbol anugerah untuk menjadi pemimpin sejati.
Filosofi “Wahyu Cakraningrat” sendiri mengandung makna mendalam, yakni wahyu sebagai anugerah, cakra sebagai roda kehidupan yang terus berputar, dan ningrat sebagai kemuliaan.
“Pemimpin yang layak adalah mereka yang memiliki integritas, kebijaksanaan, dan mampu mendengar suara rakyat. Nilai-nilai ini sangat relevan bagi generasi milenial dan zilenial saat ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Ki Puput menekankan bahwa lakon ini menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi aktif mengambil peran dalam melanjutkan perjuangan bangsa.
Momentum Wilujengan Gangsa ini juga menjadi bukti keberhasilan pembinaan seni budaya di Kelurahan Temas.
Antusiasme masyarakat terhadap seni tradisi tergolong tinggi, ditandai dengan aktifnya tiga kelompok karawitan ibu-ibu serta satu kelompok pemuda yang rutin berlatih.
Keterlibatan generasi muda dalam pergelaran ini diharapkan mampu memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam melestarikan warisan leluhur.
“Wayang kulit bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Di dalamnya ada nilai moral dan etika yang bisa membentuk karakter masyarakat,” tegas Ki Puput.
Ia pun mengajak masyarakat Kota Batu untuk kembali menumbuhkan kesadaran akan pentingnya budaya sebagai identitas dan fondasi kehidupan sosial.
“Dengan berbudaya, kita membangun karakter masyarakat yang memiliki jati diri. Dalam setiap tarikan napas budaya, terdapat nilai-nilai luhur yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Pergelaran ini diprediksi akan menyedot perhatian ribuan warga, mengingat Kelurahan Temas selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya yang dinamis di Kota Wisata Batu. (**)
Pewarta: Doi Nuri
Editor: Rio Mulyana Badia