Dari Kebun ke Tangan Pembeli, Melon Manis Kalipuro Jadi Buruan Warga
Rabu, 10 Juni 2026 - 12:11
Dari Kebun ke Tangan Pembeli, Melon Manis Kalipuro Jadi Buruan Warga
Rabu, 10 Juni 2026 - 12:11 | 1152
Pengunjung menyerbu kebun MelOn di Desa Kalipuro, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Rabu (10/6/2026). (Hasan for JN)
KABUPATEN MOJOKERTO, jurnalnusa.com — Desa Kalipuro, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, terhampar tanaman melon yang membentang rapi di bawah hangatnya sinar matahari Rabu (10/6/2026).
Pagi itu, suasana kebun tidak seperti biasanya. Deretan kendaraan roda dua dan roda empat silih berganti memasuki area kebun, membawa warga yang ingin mendapatkan buah segar langsung dari tempat panennya.
Sedangkan di antara barisan tanaman hijau yang subur, para pengunjung terlihat berjalan menyusuri kebun sambil memilih melon yang baru saja dipetik.
Ada yang datang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ada pula yang membeli dalam jumlah lebih banyak untuk dijual kembali.
Aktivitas itu menciptakan suasana ramai yang menyerupai pasar dadakan di tengah area pertanian.
Aroma khas buah matang yang menguar dari tumpukan melon berpadu dengan kesibukan para pembeli.
Mereka tak hanya datang untuk bertransaksi, tetapi juga menikmati pengalaman memilih buah langsung dari sumbernya.
Sensasi tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan saat berbelanja di pasar atau toko buah.
Lalu di tengah keramaian itu, Arifin, pengelola kebun melon, tampak sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan.
Ia mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap melon hasil panen kebunnya masih sangat tinggi. Dalam sehari, penjualan bahkan mampu mencapai beberapa ton.
“Hari ini masih laku sekitar 2 ton setengah,” ujarnya.
Menurut Arifin, sistem penjualan sengaja dibuat fleksibel agar dapat menjangkau berbagai kalangan.
Pembeli bisa membeli melon secara eceran maupun dalam bentuk paket, dengan harga yang disesuaikan berdasarkan ukuran buah.
“Beli paket bisa, ecer juga bisa. Per kilonya harganya beda-beda, ada yang Rp6 ribu, Rp9 ribu, sampai Rp11 ribu, tergantung besar kecilnya,” katanya.
Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan mengapa kebun melon ini ramai dikunjungi. Mayoritas pembeli berasal dari wilayah sekitar Mojokerto.
Selain itu, tidak sedikit pedagang kecil yang membeli dalam jumlah banyak untuk dipasarkan kembali ke berbagai daerah.
“Pembeli di sini rata-rata warga sekitar dan tengkulak-tengkulak kecil,” tambahnya.
Menariknya, pemasaran melon dari kebun ini tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung.
Arifin juga memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar. Melalui media sosial, terutama TikTok, informasi mengenai panen dan ketersediaan melon dapat diketahui lebih cepat oleh masyarakat.
“Pemasaran kita menggunakan media sosial TikTok, kita biasanya live,” jelasnya.
Strategi sederhana tersebut ternyata cukup efektif. Siaran langsung dari kebun memungkinkan calon pembeli melihat kondisi buah secara nyata, mulai dari ukuran hingga proses panennya.
Transparansi itu membantu membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperkenalkan produk pertanian lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Salah satu pelanggan setia kebun tersebut adalah Sumila. Perempuan itu mengaku sudah beberapa kali datang untuk membeli melon langsung dari kebun.
Menurutnya, rasa yang manis dan harga yang bersahabat menjadi alasan utama untuk kembali berbelanja.
“Saya beli ini buat es, di sini melonnya murah dan manis juga,” ungkapnya.
Pada kunjungan kali ini, Sumila membawa pulang sekitar 10 kilogram melon. Ia mengetahui keberadaan kebun tersebut dari cerita orang-orang di sekitarnya dan sejak itu rutin datang saat musim panen tiba.
“Sudah sering beli di sini. Tahu kalau di sini ada kebun ya dari orang-orang,” katanya.
Bagi Sumila, membeli langsung dari kebun memberikan kepuasan tersendiri. Kesegaran buah yang baru dipanen menjadi nilai tambah yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Enak di sini langsung beli dari kebunnya,” tambahnya sambil tersenyum.
Keramaian yang berlangsung hampir sepanjang hari menjadi gambaran tingginya minat masyarakat terhadap buah segar hasil pertanian lokal.
Sebab tengah persaingan pasar yang semakin ketat dan perubahan pola belanja masyarakat yang kini banyak dipengaruhi teknologi digital, kebun melon di Kalipuro menunjukkan bahwa kualitas produk, harga yang terjangkau, dan pemanfaatan media sosial dapat menjadi kombinasi yang ampuh untuk menarik pembeli.
Dari sebuah kebun sederhana di sudut Desa Kalipuro, melon-melon manis itu tidak hanya menjadi hasil panen yang dinantikan masyarakat.
Lebih dari itu, mereka membawa cerita tentang petani lokal yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, memanfaatkan teknologi untuk pemasaran, sekaligus mempertahankan kualitas hasil tanamannya.
Sebuah bukti bahwa pertanian tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat ketika dikelola dengan inovasi dan ketekunan. (**)
Pewarta: Rendika Rakita
Editor: Doi Nuri