Perlahan Namun Pasti, Buah Endemik Kota Batu Bangkit
Minggu, 08 Oktober 2023 - 21:03 | 758
Jeruk adalah buah endemik Kota Batu yang cukup lama tergantikan oleh populasi Apel yang sempat menjadi khas dari kota ini. Senin (9/10/2023). (Dok. Sumakri for JN)
Kota Batu, JN – Sebelum dikenal sebagai kota wisata, Batu lekat dengan sebutan kota apel berpuluh-puluh tahun silam ketika kota di ketinggian 800-2.000 meter itu masih dalam naungan Kabupaten Malang.
Dahulu, hampir 80% lahan pertanian di Kota Batu berdaya dengan tanaman apel. Terutama di Kecamatan Bumiaji yang hampir semua masyarakat disana bertani buah apel.
Dikutip dari Wikipedia, buah apel puluhan tahun berjaya sejak seorang warga negara Belanda bernama Gratel, pada tahun 1929 mulai menanam dan mengembangkan tanaman apel sebab suhu udara dan kesuburan tanah yang cocok.
Mulanya Gratel mengembangkan tanaman jeruk keprok yang memang banyak ditanam petani di Kecamatan Batu, Kabupaten Malang (sekarang Kota Batu). Namun demikian, dalam upaya pengembangan yang ia lakukan, justru tanaman jeruk menjadi rusak.
Banyak jeruk petani yang diserang penyakit, sehingga para petani mengalami kerugian yang cukup besar. Gratel pun mencari alternatif lain untuk memanfaatkan kebun.
Rome Beauty, adalah jenis apel pertama yang ditanam Gratel di Kota Batu. Selanjutnya, ia mulai mencoba apel varietas malus sylvestris atau populer dengan sebutan apel manalagi.
Sukses dengan dua varietas tersebut, Gratel lantas mengembangkan pertanian apel varietas golden delicious atau biasa disebut apel anna, yang telah lebih dulu dikembangkan di Israel khusus untuk ditanam di daerah dingin.
Selanjutnya apel asal Australia, yakni granny smith dan apel hasil persilangan apel manalagi dan buah pir turut menjadi eksperimen pertanian buah oleh Gratel.
Sejak beberapa tahun belakangan ini citra Kota Batu telah berubah, sadar atau tidak kota tersebut kini mulai kehilangan julukan sebagai kota apel.
Kenangan Batu sebagai penghasil apel mungkin hanya dirasakan oleh generasi lama, mereka yang lahir dari tahun 70-90an, sementara generasi 2000an mungkin lebih mengenal Batu sebagai kota wisata.
Hal ini dikarenakan mulai berangsur-angsur hilangnya pertanian apel, karena beberapa faktor yakni, peningkatan suhu udara, anomali cuaca juga faktor input dan output pertanian.
Begitu juga daya dukung air yang mulai menurun, hingga persoalan maraknya alih fungsi lahan. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam apel, tetapi juga komoditas pertanian lain seperti sayur mayur.
Situasi ini juga akan turut mendorong kerentanan pangan dan kerentanan penghidupan masyarakat Kota Batu yang mayoritas masih bertumpu pada sektor agrikultur.
Menurut data dari Batu dalam angka yang merupakan produk tahunan BPS, ada perbandingan yang cukup menarik dalam konteks lapangan pekerjaan.
Pada tahun 2010 penduduk yang berprofesi sebagai petani berjumlah sekitar 35.427 orang dari total keseluruhan penduduk yang bekerja yakni 95.679 orang.
Selang satu dekade, terjadi penurunan jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani sekitar 5.426 orang, angka ini didapatkan dari selisih rata-rata jumlah penduduk profesi petani di tahun 2021 yang sebesar 3.001 orang dari total 112.623.
Penurunan ini juga telah mendorong meningkatnya penduduk yang bekerja di sektor jasa, jika pada tahun 2010 terdapat 14.932 orang, maka angka ini melejit di tahun 2021 menjadi 64.529 orang, ada peningkatan sekitar 49.581 orang.
Meski perlu diolah lagi, karena ini data kasar, tetapi terdapat sebuah fakta cukup menarik yang menggambarkan transisi ekonomi Kota Batu, dari sektor agrikultur ke sektor jasa.
Meminjam istilah Geertz (2016) dalam bukunya Involusi Pertanian proses perubahan ekologi di Indonesia yakni involusi pertanian, sebuah proses kemunduran petani kala terjadi intensifikasi produksi komoditas tanpa adanya perbaikan teknologi dan kebijakan politik yang relevan sehingga memunculkan kompleksitas sosial.
Dosen Jurusan Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Jabal Tarik Ibrahim mengatakan jika diinterpretasikan ulang, coba diuji dan ditautkan dengan konteks Batu, Involusi ini muncul karena kebijakan politik pertanian dan pembangunan yang hanya kuat di satu sektor tetapi melemahkan di sektor lainnya.
Selanjutnya, terkait tidak adanya penerapan teknologi tepat guna, semisal soal penataan ruang yang seimbang, jelas porsi mana kawasan perlindungan hutan, kawasan lindung mata air, kawasan pertanian dan kawasan wisata.
Kini, jeruk keprok dari Kota Batu kembali menjadi raja di tanah sendiri. Bagaimana varietas jeruk keprok 55 menjadi brand yang cukup bersaing dengan varietas jeruk siem madu dari Karo, Sumatera Utara.
Jumlah tanaman jeruk di Wilayah Kota Batu menunjukkan trend naik. Pada tahun 2012 hanya ada 170.418 pohon jeruk (keprok/siam) di seantero wilayah.
Jumlah tanaman meningkat tajam dan mencapai 264.613 pohon di tahun 2020 (meningkat 55% dalam kurun waktu 8 tahun). Jumlah produksi jeruk di wilayah Kota Batu tahun 2012 hanya 88.515 kwintal, meningkat menjadi 251.335 kwintal di tahun 2020.
Peningkatan jumlah produksi jeruk sebesar 182%, suatu kenaikan yanag luar biasa. Produktivitas jeruk juga menunjukkan peningkatan yang menggembirakan.
Pada tahun 2012 setiap tanaman jeruk hanya mampu menghasilkan 51 kg/pohon dan pada tahun 2020 sudah mampu menghasilkan 94 kg/pohon. Dulu hanya dikenal wisata petik apel, saat ini berkembang wisata petik jeruk.
Indikator ini menunjukkan suksesnya petani jeruk melakukan penanaman, perawatan, dan teknis budidaya lainnya sehingga mencapai produksi yang sangat baik dilihat dari berbagai variabel ukuran.
Suksesnya petani jeruk dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia petani yang unggul, agroklimat yang menunjang, dinas pertanian yang mendorong, balai penelitian yang selalu menghasilkan teknik baru.
Perlu diketahui, di Kota Batu terdapat Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BISP Jestro), juga dukungan perguruan tinggi, tarikan pasar dari konsumsi buah jeruk yang meningkat, wisatawan agro yang meningkat, dan modal sosial masyarakat Kota Batu yang kondusif pada budidaya jeruk.
Kesuksesan petani dalam budidaya jeruk tentunya merupakan hal yang sangat baik dan perlu didukung oleh semua pihak agar tetap bertahan bahkan bisa berkembang lebih bagus lagi.
Pemerintah Kota Batu, pelaku bisnis jeruk, pelaku wisata jeruk, pedagang sarana produksi jeruk, para pemodal dan lembaga permodalan, masyarakat desa setempat, dan perguruan tinggi perlu melakukan aktivitas yang sinergis untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas jeruk.
Bersamaan dengan ini pula perlu langkah-langkah penyelamatan dari berbagai stakeholder di atas untuk mempertahankan maskot Kota Batu yaitu tanaman apel agar tetap bisa dinikmati produksinya dan keuntungan ekonominya lainnya seperti keuntungan agrowisata petik apel, wisata edukasi pemrosesan sari apel dan olahan apel lainnya.
Diperlukan regulasi yang dapat mempertahankan tanaman apel di Batu, misalnya bantuan bibit, bantuan pupuk (karena apel tidak ada di daftar komoditas yang disubsidi pupuknya), bantuan pestisida dan ZPT, dan bimbingan teknis produksi pupuk organik asli Batu untuk petani apel. (**)
Pewarta: Eshan Abyasa
Editor: Doi Nuri