Loading...

Pengunjung

Etnis Tionghoa Terima Afirmasi Wakaf Al-Qur’an di Masjid Istiqlal

admin

admin

Kamis, 12 Maret 2026 - 13:16

1083 | Bagikan

Etnis Tionghoa Terima Afirmasi Wakaf Al-Qur’an di Masjid Istiqlal

admin - Analekta Ramadan 1447 H

Kamis, 12 Maret 2026 - 13:16 | 1083

Sekretaris PSMTI Terima sertipikat wakaf dari Imam Besar Masjid Istiqlal di Jakarta. Senin (9/3/2025). (Johan for JN)

JAKARTA, jurnalnusa.com — Momentum peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal pada Senin (9/3/2025) menghadirkan peristiwa sarat makna yang menegaskan harmoni keberagaman di Indonesia.

Dalam suasana Ramadan yang khidmat, komunitas etnis Tionghoa Muslim mendapatkan afirmasi simbolik melalui penyerahan sertifikat wakaf Al-Qur’an beriluminasi Tionghoa.

Sertifikat wakaf tersebut diserahkan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, kepada Sekretaris Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, Peng Suyoto.

Penyerahan ini menjadi bentuk penghargaan atas partisipasi organisasi tersebut dalam program wakaf Al-Qur’an beriluminasi Tionghoa yang akan disebarkan ke berbagai daerah di Nusantara.

Mushaf yang diwakafkan memiliki keunikan tersendiri. Selain memuat ayat-ayat suci Al-Qur’an, mushaf tersebut dilengkapi iluminasi bernuansa budaya Tionghoa yang memperkaya estetika tanpa mengurangi kesakralan teks suci.

Inovasi ini menjadi simbol pertemuan harmonis antara budaya Tionghoa dan tradisi Islam di Indonesia.

Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Serian, menyebut wakaf Al-Qur’an sebagai bentuk sedekah jariyah yang memiliki nilai spiritual tinggi.

“Wakaf Al-Qur’an adalah pahala yang terus mengalir. Selama mushaf itu dibaca dan dipelajari, setiap huruf yang dilantunkan akan menghadirkan pahala berlipat bagi para pewakafnya,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam gerakan wakaf 100 ribu Al-Qur’an tersebut, termasuk kontribusi Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia yang turut menyukseskan program tersebut.

Sementara itu, Peng Suyoto menilai keterlibatan komunitas Tionghoa dalam program ini sebagai kesempatan penting untuk memperkuat pesan kebersamaan lintas budaya.

Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa hubungan antara Tionghoa dan Islam memiliki jejak panjang. Ia mencontohkan peran Cheng Ho yang pernah berkontribusi dalam penyebaran Islam di Nusantara.

“Tionghoa dan Islam bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Mari kita bergandengan tangan menyebarkan kebaikan tanpa memandang suku, ras maupun agama,” katanya.

Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa peluncuran program wakaf 100 ribu Al-Qur’an beriluminasi Tionghoa yang dihadirkan dalam peringatan Nuzulul Qur’an mengusung tema “Jembatan Harmoni Peradaban”.

Menurutnya, Islam di Indonesia sejak lama berkembang dengan karakter yang ramah, inklusif, dan mampu berdialog dengan berbagai tradisi budaya.

Acara malam itu juga dimeriahkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qori internasional serta pertunjukan seni lukisan pasir yang menggambarkan perjalanan sejarah Islam—mulai dari turunnya wahyu pada malam Nuzulul Qur’an, perkembangan Islam di Nusantara, hingga lahirnya Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.

Sementara di bawah kubah megah Masjid Istiqlal, Al-Qur’an malam itu tidak hanya dibaca, tetapi juga dirayakan sebagai cahaya yang mempersatukan peradaban. Pesan yang mengemuka pun jelas: keberagaman bukanlah jarak pemisah, melainkan jembatan menuju harmoni. (**)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri