Loading...

Pengunjung

PITI Malang Raya Dorong Peran Intelektual Tionghoa-Muslim untuk Kemanfaatan Umat

admin

admin

Senin, 16 Maret 2026 - 07:32

1136 | Bagikan

PITI Malang Raya Dorong Peran Intelektual Tionghoa-Muslim untuk Kemanfaatan Umat

admin - Komunitas

Senin, 16 Maret 2026 - 07:32 | 1136

Leo duduk bersama tokoh-tokoh Tionghoa muslim Malang Raya. Ahad (15/3/2026). (Doni for JN)

KOTA MALANG, jurnalnusa.com — Ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya, Leo A Permana bangun gerbong intelektual melalui agenda buka bersama.

Agenda silaturahmi dan buka puasa bersama Yayasan Sosial Hakka Malang, berlangsung kemarin, Ahad (15/3/2026), menjadi momentum penguatan peran PITI sebagai gerbong intelektual yang memberi kemanfaatan bagi umat.

Kegiatan ini dihadiri berbagai tokoh lintas sektoral tersebut, Leo hadir bersama jajaran pengurus dan kader PITI Malang Raya.

Kehadiran mereka, disebut Leo membawa misi memperkuat literasi budaya, dialog sosial, serta harmoni masyarakat berbasis pemikiran akademis.

Forum tersebut juga menegaskan posisi PITI sebagai representasi identitas Tionghoa-Muslim yang mampu menjadi jembatan dialog yang cerdas dan inklusif di tengah masyarakat plural.

Sebagai akademisi berlatar belakang hukum, Leo memberikan perhatian khusus pada pemaparan Pembina Yayasan Sosial Hakka Malang, Widodo Harsono, terkait karakteristik suku Hakka yang dikenal sangat menjunjung tinggi pendidikan.

“Paparan mengenai etos pendidikan suku Hakka yang dianalogikan dengan semangat Muhammadiyah adalah sebuah diskursus yang menarik secara sosiologis. Ini membuktikan bahwa bagi komunitas Tionghoa, pendidikan merupakan instrumen utama dalam mobilitas sosial sekaligus kontribusi bagi bangsa,” tukas Leo.

Menurutnya, nilai intelektualitas yang berkembang dalam komunitas Hakka sejalan dengan visi PITI Malang Raya dalam membina kader yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga matang secara intelektual dan sosial.

Leo menegaskan bahwa menjadi seorang intelektual Tionghoa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga harmoni sosial melalui pemikiran yang jernih dan tindakan yang solutif.

Dalam kesempatan tersebut, Leo juga membawa sejumlah kader muda PITI untuk mendapatkan pengalaman langsung tentang pentingnya jejaring lintas organisasi.

Ia memandang interaksi antara PITI, Yayasan Hakka, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), hingga tokoh negara seperti Ketua BAKN DPR RI Andreas Eddy Susetyo sebagai laboratorium sosial yang nyata.

“Saya ingin para kader PITI tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki wawasan sosial yang luas. Melihat bagaimana Yayasan Hakka membangun kekuatan melalui gotong royong dan kemitraan strategis merupakan pelajaran penting tentang manajemen organisasi dan pengabdian masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, dalam diskusi terbatas, Leo juga menyoroti pentingnya aspek legalitas serta dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan organisasi sosial.

Ia mengapresiasi komitmen para tokoh yang mengawal proses perizinan renovasi gedung Hakka sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap simpul-simpul pemersatu bangsa.

“Secara normatif, sinergi antara aspirasi masyarakat dan kebijakan negara merupakan kunci stabilitas sosial. Kehadiran kami di sini adalah bentuk dukungan moral bahwa persatuan yang dirajut hari ini memiliki landasan sosiologis dan yuridis yang kuat untuk masa depan Malang Raya,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, jajaran PITI Malang Raya juga menyaksikan prosesi penyerahan cinderamata berupa lukisan Wali Kota Malang serta penyaluran santunan sembako kepada warga sekitar.

Bagi PITI, aksi filantropi tersebut merupakan wujud nyata dari nilai kemanusiaan yang melampaui batas etnisitas. Leo menyebutnya sebagai bentuk “zakat sosial”, di mana kebaikan menjadi bahasa universal yang mampu mempererat persaudaraan dan menghadirkan kemanfaatan bagi umat. (**)

Pewarta: Eshan Abyasa Kawindra
Editor: Doi Nuri