Ditolak Nike dan Adidas, Ide Sepatu Berlubang Mario Moretti Polegato Justru Mendunia Lewat Geox
Senin, 08 Juni 2026 - 23:08
Mario Moretti Polegato bersama sepatu Geox. Selasa (9/6/2026). (AI)
LIFESTYLE, jurnalnusa.com — Kisah sukses bisnis sering kali lahir dari masalah sederhana yang dialami sehari-hari. Hal itu pula yang terjadi pada Mario Moretti Polegato.
Ia seorang pengusaha anggur asal Italia yang berhasil membangun perusahaan sepatu global setelah idenya sempat ditolak oleh sejumlah raksasa industri, termasuk Nike dan Adidas.
Perjalanan tersebut bermula pada awal 1990-an ketika Polegato menghadiri sebuah konvensi industri anggur di Reno.
Setelah acara selesai, ia berjalan-jalan di kawasan gurun Nevada yang bersuhu tinggi. Cuaca panas membuat kakinya terasa tidak nyaman di dalam sepatu lari bersol karet yang dikenakannya.
Dalam kondisi tersebut, Polegato melakukan tindakan yang tidak biasa. Ia menggunakan pisau lipat untuk membuat sejumlah lubang kecil pada bagian bawah sol sepatunya agar udara dapat mengalir masuk.
Cara sederhana itu ternyata membuat kakinya terasa lebih sejuk dan nyaman. Pengalaman tersebut kemudian memunculkan sebuah ide besar. Sekembalinya ke Italia,
Polegato mulai melakukan berbagai eksperimen di bengkel milik keluarganya. Ia berupaya menciptakan sepatu yang mampu mengeluarkan panas dan uap keringat dari dalam, tetapi tetap mencegah air masuk dari luar.
Setelah berbulan-bulan melakukan penelitian, ia menemukan solusi melalui teknologi membran berpori yang terinspirasi dari material yang digunakan dalam pakaian antariksa.
Teknologi itu kemudian dikembangkan menjadi sistem sol dua lapis yang memungkinkan kaki "bernapas" tanpa mengurangi kemampuan sepatu menahan air.
Temuan tersebut dipatenkan di lebih dari 100 negara. Dengan penuh optimisme, Polegato kemudian menawarkan lisensi teknologinya kepada sejumlah perusahaan sepatu terbesar dunia.
Namun, respons yang diterimanya jauh dari harapan. Nike, Adidas, dan beberapa produsen alas kaki besar lainnya menolak gagasan tersebut. Konsep sepatu berlubang yang tetap kedap air dianggap terlalu tidak lazim dan sulit diterima pasar.
Alih-alih menyerah, Polegato justru memutuskan untuk memproduksi sepatunya sendiri. Pada 1995, ia meminjam dana sekitar 500.000 euro dari bank lokal, merekrut lima karyawan, dan memulai produksi dari pabrik kecil keluarga di kawasan Montebelluna, dekat Treviso.
Merek yang ia bangun diberi nama Geox, gabungan kata Yunani "geo" yang berarti bumi dan huruf "X" yang melambangkan teknologi.
Produk pertamanya adalah sepatu anak-anak. Meski dimulai dari skala kecil, inovasi yang ditawarkan Geox mendapat sambutan positif dari konsumen.
Sepatu tersebut dinilai mampu menghadirkan kenyamanan sekaligus perlindungan yang selama ini sulit ditemukan dalam satu produk.
Seiring waktu, Geox berkembang pesat. Dari hanya lima karyawan, perusahaan itu tumbuh menjadi salah satu produsen alas kaki terkemuka dunia.
Saat ini, Geox hadir di lebih dari 115 negara dengan jaringan distribusi dan toko yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Kesuksesan Polegato menjadi bukti bahwa penolakan bukanlah akhir dari sebuah ide. Berawal dari seorang pengusaha anggur yang kepanasan di gurun Nevada dan sebuah lubang kecil pada sol sepatu, lahirlah inovasi yang kemudian mengubah industri alas kaki global.
Kisah Geox menunjukkan bahwa terkadang peluang terbesar muncul dari masalah sederhana yang dilihat dengan cara berbeda.
Ketika banyak pihak meragukan sebuah gagasan, keberanian untuk terus mengembangkan dan mewujudkannya dapat menjadi pembeda antara kegagalan dan kesuksesan besar. (**)
Pewarta: Rendika Rakita
Editor: Doi Nuri