Loading...

Pengunjung

Dua Lakon Kontras Mahasiswa UMM Uji Emosi dan Kesetiaan di Panggung Teater

admin

admin

Selasa, 13 Januari 2026 - 06:53

1127 | Bagikan

Dua Lakon Kontras Mahasiswa UMM Uji Emosi dan Kesetiaan di Panggung Teater

admin - Sosial Budaya

Selasa, 13 Januari 2026 - 06:53 | 1127

Pementasan Teater oleh Mahasiswa BSI Modern UMM. Senin (12/1/2026). (Humasstpi UMM for JN)

KOTA MALANG, jurnalnusa.com — Tipu daya yang menyisakan luka batin dan kesetiaan yang diuji oleh waktu bertemu di atas satu panggung.

Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan dua lakon kontras yang menggugah emosi penonton melalui pementasan teater selama dua hari, 11–12 Januari 2026, di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM.

Pementasan ini merupakan luaran mata kuliah Penyutradaraan, yang menjadi ruang eksplorasi mahasiswa dalam mengolah teks drama, penyutradaraan, serta keaktoran.

Dua naskah ditampilkan secara berurutan, masing-masing dengan karakter konflik dan pendekatan artistik yang berbeda.

Hari pertama menghadirkan “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna.

Lakon ini mengisahkan Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan sebagai bagian dari skenario licik untuk menguasai harta korban. Ironisnya, rencana tersebut disusun bersama istrinya sendiri.

Tanpa menyadari tipu daya itu, perempuan yang menjadi korban perselingkuhan justru mengalami kebangkrutan dan kehancuran batin setelah mengetahui hubungan yang dijalaninya hanyalah manipulasi.

Pertunjukan dibangun dengan atmosfer emosional yang intens, menyoroti pengkhianatan, keserakahan, dan kehancuran perasaan manusia.

Sementara itu, hari kedua menampilkan “Orang Kasar” karya Anton Chekov yang disadur oleh W.S. Rendra, dengan nuansa lebih dinamis dan sarat ironi.

Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam.

Konflik bermula saat Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi.

Kehadirannya justru memunculkan benih cinta baru, membuat sang nyonya terjebak dalam dilema antara kesetiaan dan perasaan.

Adegan-adegan komikal yang lahir dari gengsi, kecanggungan, dan tarik-ulur emosi dua tokoh utama sukses membuat penonton greget hingga akhir pertunjukan.

Pembina mata kuliah Penyutradaraan, Dr. Hari Sunaryo, M.Si., menilai pementasan ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara.

Menurutnya, kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan dan kedewasaan dalam mengolah adegan.

“Saya yang mendampingi adik-adik ini sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan. Jika tidak cermat sebagai sutradara dan pelaku, ada adegan yang bisa masuk wilayah sensor. Karena itu, penting tetap mengusung nilai. Sutradara dan UMM memiliki filter yang presisi. Ini menjadi pelajaran berharga menjadi pribadi yang memiliki kehidupan sekaligus penjaga kehidupan,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. Ia menilai proses panjang latihan, dinamika emosi, hingga konflik internal selama produksi justru memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung.

“Banyak suka dan duka yang mereka jalani selama proses. Namun, itu membuat adegan demi adegan terasa hidup. Plot twist yang dihadirkan bahkan memancing reaksi jengkel penonton, dan itu tanda aktor berhasil mendalami perannya,” tuturnya.

Ia berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif.

Menurutnya, pertunjukan semacam ini memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa ketika lulus, khususnya bagi mereka yang akan berkecimpung di dunia akting, keaktoran, dan seni pertunjukan.

Melalui dua lakon dengan konflik yang saling bertolak belakang, pementasan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM bukan sekadar ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan, tanggung jawab, dan profesionalitas mahasiswa.

Pengalaman artistik tersebut menjadi modal penting dalam mengasah kompetensi mereka di dunia kerja dan kehidupan sosial ke depan. (**)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri