Loading...

Pengunjung

Nilai Sejarah Transmisi Islam di Kota Batu pada Haul Pangeran Rojoyo dan Mbah Condro Asmoro

admin

admin

Jumat, 24 Januari 2025 - 12:42

2604 | Bagikan

Nilai Sejarah Transmisi Islam di Kota Batu pada Haul Pangeran Rojoyo dan Mbah Condro Asmoro

admin - Sosial Budaya

Jumat, 24 Januari 2025 - 12:42 | 2604

Peringatan haul Pangeran Rojoyo ke-187 dan Mbah Condro Asmoro ke-236, upaya pelestarian nilai sejarah penyebaran Islam. Jum’at,(24/1/2025). (Zara/JN).

Kota Batu, JN – Masyarakat Desa Bumiaji dan putri wayah (keturunan, red) Pangeran Rojoyo atau Mbah Batu, menggelar acara doa bersama dan istighosah.

Agenda tersebut dalam rangka memperingati Haul Pangeran Rojoyo ke-187 dan Haul Raden Ayu Dewi Condro Asmoro ke-236.

Acara ini berlangsung khidmat dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat serta pemerintah setempat. Tidak terkecuali Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu terpilih, Nurochman dan Heli Suyanto.

Penting diketahui, selain Makam Mbah Batu dan Mbah Condro Asmoro, di komplek pemakaman tersebut juga bersemayam 2 tokoh lainnya, yakni Raden Ayu Dewi Mutmainah, dan Kyai Abu Naim.

Pangeran Rojoyo atau Mbah Batu adalah putra Sunan Kadilangu, yakni cucu Sunan Muria sekaligus cicit Sunan Kalijaga.

Diceritakan oleh salah satu putro wayah Mbah Batu, Arif Rahman, jika Pangeran Rojoyo belajar agama dengan Syekh Maulana di Pesantren Dermayu Cirebon.

Setelah Sunan Kadilangu wafat, Pangeran Rojoyo diminta menggantikan ayahnya untuk memimpin Kadilangu Demak.

Kemudian pada 1600-an terjadi peperangan besar. Amangkurat II dibantu Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menyerang Kadilangu Demak.

Karena kalah, Pangeran Rojoyo pergi ke Gunung Muria untuk menemui Sunan Muria. Saat bertemu, Sunan Muria memberi wasiat agar Pangeran Rojoyo mengembara ke Timur dan menjadi mubalig untuk menyebarkan Islam.

Arif mengatakan, Pangeran Rojoyo tidak sendiri. Dia membawa beberapa pengikutnya. Mereka akhirnya sampai di kawasan yang kini menjadi Desa Bumiaji.

Saat itu, kata Arif, nama kawasan masih Kabeneran. Ada pula yang menyebutnya Wono Aji atau Banaran Bumiaji. Selama menetap di Kabeneran, Pangeran Rojoyo membangun pondok pesantren (ponpes).

Informasi dari beberapa sesepuh dari Arif Rahman, Ponpes tersebut tepat berada di depan Makam Mbah Mbatu, atau yang sekarang menjadi area kebun Balitjeatro.

Selain membuat ponpes, Pangeran Rojoyo juga melakukan syiar. Dia mendekati penduduk setempat yang belum memeluk agama Islam untuk melakukan kebaikan seperti salat dan mengaji.

Banyak orang-orang yang kemudian menjadi pengikut Pangeran Rojoyo. Di antaranya Ki Ageng Gribig yang kemudian mengembara ke Malang, Mbah Patok di kawasan Songgoriti, dan Mbah Zakaria di kawasan Lesti.

Bahkan, dulu putri dari Raja Majapahit Suhito Kerto Bumi dengan Dewi Anjasmoro, yakni Raden Ayu Dewi Condro Asmoro minta masuk Islam kepada Pangeran Rojoyo.

Meski perempuan, Raden Ayu Dewi Condro Asmoro sangatlah alim dan menjadi tauladan projo Majapahit.

Tidak hanya Raden Ayu Dewi Condro Asmoro, menyebutkan bahwa peran Pangeran Rojoyo sudah sampai mancanegara.

Pangeran Rojoyo juga dikenal sebagai imam besar di Makkah dan memiliki prasasti di sana. Selama 9 tahun menyebarkan Islam di timur, kemudian meminta istrinya, Raden Ayu Dewi Mutmainah beserta 7 anaknya untuk pindah ke Banaran Bumiaji.

Sebelum pindah ke Banaran Bumiaji, Dewi Mutmainah sempat menjabat sebagai Bupati Demak. Tapi beliau akhirnya menyusul Pangeran Rojoyo untuk mengasuh Pondok Pesantren Kabeneran.

Selain Dewi Mutmainah, Pangeran Rojoyo juga dibantu Kiai Abu Naim. Sang kiai adalah prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari serbuan Belanda.

Keduanya bersama-sama menyebarkan Islam kepada santri-santri baru hingga ke kawasan lain di Malang Raya.

Ajaran Islam dari Pangeran Rojoyo atau Mbah Batu terus diwariskan ke santri maupun keluarga. Termasuk anak-anaknya.

Salah satunya, anak bungsu yang bernama Muqtaribun, dan memiliki keturunan yang kini masih tinggal di Kota Batu.

Muqtaribun memiliki keturunan bernama Muhammad Nachrowi. Setelah berkeluarga, Nachrowi lalu memiliki anak yang salah satu keturunannya adalah Arif Rahman.

Agar sejarah Pangeran Rojoyo tidak pudar, Nachrowi membangun kompleks pemakaman Mbah Mbatu sekira tahun 1995.

Wali Kota Batu, Nurochman, dalam keterangannya menyampaikan, pentingnya menghormati dan memuliakan jasa Pangeran Rojoyo sebagai salah satu orang yang memulai peradaban, yang kini bernama Kota Batu.

“Beliau adalah tokoh yang berjasa besar dalam meletakkan dasar keislaman dan membangun wilayah Batu. Kita semua wajib menjaga dan meneruskan ajaran beliau,” ungkapnya. (**)

Pewarta : Zara Putri Islamia Aiska
Editor : Doi Nuri